Ambon (ANTARA News) - Kementerian Pembangunan Daerah Tertingal (PDT) mendorong pengembangan budidaya rumput laut di kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) Provinsi Maluku yang mampu menyerap hingga 5.000 tenaga kerja.

“Budidaya rumput laut adalah komoditas unggulan MTB yang belum tergarap maksimal. Sawah ladang masyarakat di sini bukan dalam bentuk daratan, tapi lautan yang bisa ditanami rumput laut, selain melalui penangkapan ikan,” kata Menteri PDT Helmy Faishal Zaini saat panen raya rumput laut di Desa Adaut, Selaru, MTB, Kamis.

Lebih jauh dia menuturkan, potensi alam yang dimiliki MTB hingga kini baru tergarap 10 persen untuk budidaya kelautan dari lahan yang tersedia yakni 21.979,93 ha. Namun dengan jumlah 10 persen tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 30 persen masyarakatnya.

Jika persentase pengembangan budidaya rumput laut di daerah kepulauan ini bisa ditingkatkan, lanjut dia, bukan tidak mungkin dalam dua tahun kedepan MTB bisa lepas dari status daerah tertinggal dan sejajar dengan daerah maju lainnya di Indonesia.

Helmy menegaskan, peningkatan kuantitas dan kualitas budidaya rumput laut juga akan diikuti upaya menstabilkan harga jual rumput laut, sehingga masyarakat tidak terombang-ambing dalam ketidakpastian harga.

Karena itu, warga desa dan kelompok tani setempat harus bersatu agar posisi tawar dalam menjual hasil rumput laut kepada pengepul bisa dikendalikan.

“Kalau dijual sendiri-sendiri oleh petani tentu negosiasi harganya akan lemah. Beda dengan berkelompok sehingga penjualannya bisa terakomodir dan merata. Karena itu, kami akan membangun warung informasi tentang fluktuasi harga rumput laut secara nasional agar bisa dijadikan referensi,” katanya.

Pada kesempatan sama, Wakil Gubernur Maluku Said Assegaf mengatakan, pertanian rumput laut adalah salah satu sumber mata pencarian utama sebagian masyarakat MTB.

Bahkan nyaris tidak ada masyarakat yang berprofesi sebagai petani daratan karena daerah ini berbentuk kepulauan yang terpencar di sejumlah titik.

Assegaf juga mengaku bangga karena Helmy Faishal merupakan menteri pertama yang pernah mengunjungi kabupaten MTB sejak dimekarkan 11 tahun lalu.

Bahkan, menteri dari Partai Kebangkitan Bangsa ini membuka jalan sebelum Wakil Presiden Boediono berencana berkunjung pada pertengahan November mendatang.

“Kami dan masyarakat sekitar sini sangat bangga dan berterimakasih karena sudah ada menteri yang mau berjalan di pelosok-pelosok daerah terpencil seperti kami ini. perhatian seperti ini yang sebenarnya diharapkan masyarakat sebagai motivasi untuk terus membangun dalam keranka NKRI,” pungkasnya.

Plt Kepala Dinas perikanan dan Kelautan Kabupaten MTB Angky Papilaya dalam laporannya mengatakan, dengan harga jual Rp7.000 per kg, dalam satu periode panen, petani rumput laut akan menghasilkan Rp1,8 miliar.

Pada tahun 2007 produksi rumput laut kering yang diantarpulaukan sebanyak 112,5 ton atau setara 900 ton rumput laut basah. Pada 2009, meningkat menjadi 725,55 ton rumput laut kerting atau setara 5.804, 4 ton basah. Atau meningkat sebesar 645 persen. Sedangkan hingga semester I tahun 2010 hasil produksi rumput laut telah mencapai 6.502,64 ton.
(ANT/B010)

Pewarta: Bambang
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2010