Mengenal pola asuh "mindful parenting"

Mengenal pola asuh "mindful parenting"

Ilustrasi pendampingan orang tua menemani anak mengakses gawai. (Antara/Pexels)

Jakarta (ANTARA) - Sebagai pendidik utama dalam keluarga, orangtua seringkali menghadapi banyak tantangan dan persoalan. Apalagi bagi para pasangan yang baru memiliki momongan. 

Pada dasarnya, permasalahan itu muncul karena komunikasi antara orangtua dan anak yang kurang efektif. Mindful parenting atau mengasuh dengan penuh perhatian adalah salah satu cara yang dapat dipraktikkan untuk menciptakan komunikasi efektif dengan anak.

Dilansir dari Healthline, Jumat, gagasan pengasuhan itu telah ada sejak tahun 1997, memegang prinsip perhatian penuh pada banyak situasi dalam keluarga Anda.

Tujuan membawa perhatian penuh ke dalam pola asuh adalah untuk menanggapi perilaku atau tindakan anak dengan penuh pertimbangan dibandingkan sekedar bereaksi. 

Pola asuh itu mengharuskan Anda memiliki penerimaan untuk anak Anda dan diri sendiri. Untuk menerapkan pola asuh ini, Anda perlu memiliki beberapa keterampilan.

Baca juga: Hari Anak Nasional, momen orang tua bersahabat dengan si kecil

Baca juga: KPPPA berkolaborasi dengan Dancow luncurkan Buku Saku #BundaBangga


Mendengarkan

Saat mendengarkan anak, Anda harus benar-benar melakukannya dan mengamati dengan penuh perhatian. Hal ini memang membutuhkan banyak kesabaran dan latihan. Selain mendengarkan, Anda juga harus memperhatikan lingkungan seperti pemandangan, bau, atau suara di sekitar Anda dan anak Anda.

Menerima

Sikap penerimaan yang tidak menghakimi juga diperlukan dalam pola asuh ini. Tidak menghakimi juga berarti melepaskan harapan yang tidak realistis dari anak Anda. Pada akhirnya, penerimaan "apa adanya" adalah tujuan dari sikap ini.

Kesadaran emosional

Menerapkan pola asuh penuh perhatian membutuhkan kesadaran untuk interaksi pengasuhan meluas dari orang tua ke anak. Memodelkan kesadaran emosional adalah kunci untuk mengajar anak Anda melakukan hal yang sama. Sebab, selalu ada emosi yang mempengaruhi situasi.

Regulasi diri

Melakukan regulasi diri berarti tidak membiarkan emosi Anda memicu reaksi langsung, seperti berteriak atau perilaku spontan lainnya. Singkatnya, Anda harus berpikir sebelum bertindak untuk menghindari reaksi berlebihan.

Kasih sayang

Mungkin terkadang, Anda tidak setuju dengan tindakan atau pola pikir anak Anda. Namun, pola asuh penuh perhatian ini mendorong orang tua untuk berbelas kasih. Pola asuh ini akan melibatkan empati dan memahami posisi anak Anda.

Baca juga: Kementerian PPPA sebut pola pengasuhan masa kini perlu libatkan anak

Baca juga: Saat pandemi, "Peppa Pig effect" bikin banyak anak beraksen Inggris

Baca juga: Tips membagi waktu agar anak tak terabaikan saat "WFH"

Pewarta: Lifia Mawaddah Putri
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ciptakan SDM unggul melalui pola asuh anak

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar