BPS Kota Surakarta pastikan PPKM tak ganggu pencatatan inflasi

BPS Kota Surakarta pastikan PPKM tak ganggu pencatatan inflasi

Kepala BPS Kota Surakarta Totok Tavirijanto. ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta memastikan pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) tidak mengganggu kegiatan pencatatan inflasi oleh para petugas yang ada di lapangan.

"Mengenai proses pendataan, kami berinovasi dengan menggunakan sejumlah cara untuk meminimalisasi kunjungan ke responden," kata Kepala BPS Kota Surakarta Totok Tavirijanto di Solo, Kamis.

Ia mengatakan BPS menggunakan telepon, surat elektronik, maupun pesan singkat melalui aplikasi whatsapp untuk mencari data, meski wawancara dengan pedagang pasar tradisional tetap harus dilakukan secara langsung.

Baca juga: Perkuat akurasi data pangan, sinergi Kementan-BPS diapresiasi

"Meski demikian, kondisi ini tidak menghentikan proses pendataan yang kami lakukan. Respon mereka sejauh ini sangat bagus, mereka kan juga sudah terbiasa sebagai responden. Insyaallah tidak mengurangi validnya data," katanya.

Sementara itu, terkait dampak PPKM terhadap kondisi harga bahan pokok di pasaran, ia memprediksi situasi itu akan sedikit menghambat perekonomian dan mempengaruhi harga.

"Pasar pasti akan terkoreksi juga di sana, ini yang sedang kami cermati. Seberapa besar pengaruhnya karena pasti kan ada pembatasan-pembatasan di sana, penawaran berpengaruh sehingga berpengaruh juga dari sisi harga," katanya.

Namun, ia enggan memperkirakan tekanan inflasi yang mungkin terjadi pada Juli sebagai dampak dari fluktuasi harga dan daya beli konsumen akibat adanya pembatasan aktivitas masyarakat.

Baca juga: BPS catat 13,3 kilometer jalan di Bogor dalam kondisi rusak berat

"Kami belum bisa menyampaikannya karena ada beberapa data yang masih di lapangan, ini kan belum habis bulan. Yang pasti selain PPKM, yang mungkin juga akan mempengaruhi harga adalah Idul Adha beberapa waktu lalu," katanya.

Hanya saja, ia memastikan kelompok makanan kemungkinan akan memberikan sumbangan terhadap inflasi, terutama untuk bahan masakan.

"Pada Idul Adha kemarin banyak orang mengolah daging, kemungkinan yang terkait itu (sumbangan terhadap inflasi), termasuk juga pelengkapnya," kata Totok.

Baca juga: BPS DKI: Daya beli masyarakat Jakarta belum pulih

Baca juga: BPS: Angka kemiskinan bisa ditekan bila pengentasan fokus di Jawa

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Nilai ekspor Agustus 2021 Indonesia capai rekor tertinggi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar