Syarat pertama untuk mengurangi pengangguran adalah bagaimana transformasi ekonomi kita, fundamental ekonomi kita, diarahkan dari yang bersifat konsumtif menjadi negara yang produktif.
Jakarta (ANTARA) - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov meminta pemerintah untuk mengarahkan perekonomian Indonesia sebagai ekonomi yang produktif.

“Syarat pertama untuk mengurangi pengangguran adalah bagaimana transformasi ekonomi kita, fundamental ekonomi kita, diarahkan dari yang bersifat konsumtif menjadi negara yang produktif,” kata Abra dalam wawancara melalui telepon di Jakarta, Senin.

Abra mengungkapkan sebesar 55 persen ekonomi Indonesia saat ini ditunjang oleh konsumsi masyarakat.

“Sebenarnya dalam pidato tadi, Presiden telah mengatakan bahwa ekonomi kita reformasi struktural dicerminkan dengan industrialisasi dan investasi. Hanya saja yang paling penting komitmen dan pembuktiannya,” kata dia.

Baca juga: Presiden: Investasi harus terintegrasi dengan pertumbuhan ekonomi

Ia menjelaskan saat ini Indonesia masih melakukan ekspor barang mentah seperti barang-barang mineral dalam bentuk mentah. Bahkan pemerintah juga mengimpor kebutuhan barang-barang pokok.

Abra mengungkapkan sebenarnya para investor tertarik untuk melakukan kegiatan industri di Tanah Air. Namun, dalam perjalanannya Indonesia masih memberikan regulasi dan tekanan yang berubah-ubah kepada para investor domestik ataupun investor global.

“Pasar dan investor bisa menilai ketika secara praktik sudah mengalami reformasi. Saya pikir pemerintah akan sangat mudah menargetkan investasi kalau sudah bisa merasakannya. Mereka akan memilih negara yang lebih siap secara regulasi dan infrastruktur, mereka akan memilih dengan sendirinya,” kata dia.

Ia mengatakan bahwa daya saing berinvestasi yang dilihat  investor global, tidak hanya dari kebijakan yang diproduksi tetapi juga bagaimana pemerintah berkomitmen dalam menjalankan regulasi.

Baca juga: Akademisi: Barengi kemudahan investasi dengan peningkatan SDM otomotif

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan akan memfokuskan konsolidasi fiskal tahun 2022 untuk mendukung pelaksanaan reformasi yang struktural.

"Konsolidasi fiskal tahun 2022 akan lebih fokus untuk mendukung pelaksanaan reformasi struktural, terutama akselerasi pembangunan SDM, melalui reformasi bidang kesehatan, perlindungan sosial, dan pendidikan," kata Jokowi dalam pidato penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2022 dan Nota Keuangan pada Rapat Paripurna DPR-RI Tahun Sidang 2021 - 2022, di Gedung MPR/DPR.

Jokowi menjelaskan reformasi struktural juga diarahkan untuk perbaikan fondasi ekonomi melalui reformasi regulasi dan birokrasi serta dukungan sektoral yang mendorong pertumbuhan.

"Pemerintah juga akan melanjutkan komitmen untuk bisa menurunkan kemiskinan, terutama penghapusan kemiskinan ekstrem dan mengurangi ketimpangan," kata Presiden.

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Nusarina Yuliastuti
Copyright © ANTARA 2021