Pagelaran ketoprak DGB UI gerakkan kebudayaan dan hidupkan tradisi

Pagelaran ketoprak DGB UI gerakkan kebudayaan dan hidupkan tradisi

Pagelaran ketoprak Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia (UI). (ANTARA/Foto: Humas UI)

Depok (ANTARA) - Ketua Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Indonesia (UI) Prof. Harkristuti Harkrisnowo mengatakan pagelaran ketoprak DGB UI diharapkan mampu menggerakkan kebudayaan dan menghidupkan tradisi.

"DGB UI membawa misi menggerakkan kebudayaan menghidupkan tradisi. Terima kasih kepada Makara Art Center (MAC) dan para Guru Besar (GB) yang telah ikut berpartisipasi mewujudkan pementasan ini di tengah-tengah kesibukan mengajar. Semoga bisa menghibur para penonton dari cerita dan lakon-lakon yang diperankan oleh para GB UI," kata Harkristuti dalam keterangannya, Rabu.

Prof. Harkristuti juga menyampaikan tantangan selama proses produksi di antaranya bagaimana bisa mengumpulkan 50 orang GB UI dalam dua kali seminggu untuk latihan olah suara dan tata gerak.

Baca juga: Guru Besar UI sebut Bung Hatta tokoh yang berintegritas

Hal ini merupakan usaha para GB UI untuk tetap memperhatikan kesehatan meningkatkan imunitas di tengah pandemi dan juga tetap memberdayakan diri menggali kebudayaan.

"Perjuangan yang luar biasa, harapannya ke depannya bisa menyelenggarakan lagi," ujarnya.

Sementara itu Kepala Makara Art Center UI Dr. Ngatawi Al-Zastrow mengatakan persembahan para GB UI ini merupakan sentuhan kebudayaan, merajut hati merawat imunitas.

Menurutnya ini adalah even kebudayaan yang luar biasa dalam memperingati Hari Kemerdekaan, sebuah inovasi baru, yaitu Ketoprak Virtual. Zastrow berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi generasi muda, yaitu membuat teater/sendratari virtual.

Ia mengatakan bahwa mitologi maupun sejarah bisa dipahami sebagai sumber referensi/pelajaran dari kisah/lakon untuk inspirasi dalam kehidupan. Penonton diharapkan dapat memaknai sendiri pesan dalam Pagelaran Ketoprak.

"Ambil yang jernih, buang yang tidak baik. Mari meningkatkan imunitas dengan kreativitas," ujarnya.

Baca juga: UI sabet penghargaan kompetisi gas-petrokimia internasional

Pagelaran Ketoprak Virtual GB UI memanen apresiasi dan disambut antusias oleh lebih dari 300 penonton di kanal Youtube MAC UI dan 100 peserta di platform Zoom. Penonton yang hadir menyaksikan tidak hanya dari sivitas akademika UI, juga ada dari Universitas lain seperti Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Sumatera Utara.

Dekan FISIP UI Arie Soesilo mengatakan bahwa pagelaran tersebut luar biasa. Talenta-talenta tersembunyi para guru besar UI seperti Prof. Fuad Hassan tuliskan Panji-panji Ilmu dan Seni Berkibar Tinggi di Almamater ini.

Pimpinan Produksi, Prof. Dr. Titik Pudjiastuti mengatakan DGB UI tidak tinggal diam, meski harus bekerja dari rumah, jiwa hasrat dan seni tetap berkobar untuk mementaskan Ketoprak lagi dengan satu tujuan menghibur para penonton agar lupa sejenak dengan pandemi yang melanda dunia.

Lakon berjudul DST dimainkan oleh 26 profesor lintas fakultas di UI -- dari FK, FKG, FT, FMIPA, FPsikologi, FISIP, FIA, FIB, FH, FEB, FF, dan FKM-- berperan sebagai tokoh dan pemain dalam pagelaran Ketoprak GB UI. Kisah tersebut membawa pesan moral, yaitu kebaikan akan selalu menang dari kejahatan.

Kali ini Ketoprak GB UI yang dipentaskan bukan Ketoprak yang bermain di atas panggung dengan iringan gamelan, melainkan Ketoprak yang dipertontonkan secara daring, yang kemudian disebutnya ‘Ketopring’.

Oleh karena itu, semua kegiatan Ketoprak dilaksanakan sendiri-sendiri di rumah masing-masing, sesuai perannya, latihan hanya bertemu di dunia maya, tidak ada pertunjukkan olah tubuh, dan sutradara hanya mengarahkan intonasi suara dan mimik wajah.

"Sungguh luar biasa, meskipun sibuk mengajar dan kegiatan lainnya, para GB UI tetap semangat dan ceria sewaktu latihan. Yang lebih menakjubkan, ketika para GB harus membuat rekaman sendiri, sesuai peran masing-masing dengan sukarela. Kreativitas muncul, harus dandan sendiri, dan memakai kostum yang diusahakan sesuai dengan cerita, maka jubah hitam GB UI ikut digunakan," ujar Prof. Titik.

Kisah Dewi Sri Tanjung dipercaya sebagai legenda yang hidup dalam memori kolektif masyarakat Banyuwangi. Kisah ini menandai lahirnya istilah ‘banyu wangi’ yang berarti air yang berbau wangi. Legenda itu sendiri mengisahkan Dewi Sri Tanjung yang tidak lain adalah keturunan dari keluarga Pandawa.

Cerita yang dipertunjukkan oleh Ketoprak Guru Besar UI ini bermula dari Raden Sidapaksa yang selesai berguru kepada Ajar Maharesi, seorang resi dari pertapaan di lereng gunung Raung.

Resi tersebut memerintahkan Raden Sidapaksa untuk mengabdikan diri kepada Raja Sulakrama di kerajaan Sindureja dan menerapkan ajarannya di bawah bimbingan raja tersebut. Perjalanan turun gunung pun dilakukan dan sampailah ia di kerajaan yang kemudian Raja Sulakrama menerima pengabdiannya.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar