Surabaya (ANTARA News) - Sebanyak 63 foto bertajuk "The Power of Woman" karya 18 anggota Perkumpulan Seni Foto Surabaya (PSS) dipamerkan di Galeri Seni `House Of Sampoerna` (HOS) Jalan Taman Sampoerna, Rajawali, Surabaya, 3-19 Desember.

"Puluhan foto yang merupakan hasil editing dari 200-an foto itu dipamerkan untuk menyambut Hari Ibu (22/12)," kata kurator pameran, Hari Yong, didampingi Ketua PSS Nogo Agusto Alimin dan Manajer Museum HOS Rani Anggraini di Surabaya, Rabu.

Menurut dia, perempuan itu memiliki kekuatan yang luar biasa, karena kelemahan atau kelembutan perempuan juga merupakan kekuatan perempuan, sehingga perempuan itu bisa berbuat sembarang (serba bisa).

"Saya sendiri mengagumi perempuan, karena perempuan itu mempunyai kelembutan, semangat, dan bahkan segalanya, karena laki-laki hanya mempunyai tanggung jawab, sedangkan perempuan mempunyai banyak parameter," katanya.

Misalnya, foto seorang perempuan tua yang menarik gerobak barang, foto sepatu wanita dari seorang polisi di antara deretan beberapa sepatu polisi laki-laki, dan foto seorang perempuan peramal atau penari, atau foto papan nama bertuliskan `Gina Prajitno`.

Selain itu, ada pula foto perempuan yang bergotong royong dalam tugas di kawasan perkebunan, pasar, dan pabrik, serta foto perempuan yang menyusui anaknya, bersolek, dan foto perempuan mengaji atau bermeditasi.

"Foto sepatu wanita dari sejumlah polisi laki-laki itu menunjukkan wanita itu dapat duduk bersanding dan sejajar dengan kaum laki-laki, sedangkan perempuan peramal dan penari itu menunjukkan perempuan juga suka kehidupan glamour," katanya.

Ke-18 anggota PSS yang karya fotonya dipamerkan adalah Ade Lisa, Astralin, Deonisya Ruhty, Djody PW, Gerald Fernando, Heni, Hiapy Kusuma, Hubert, Jakop Iskandar, Jayadi Sukito, Lucky Steven, Mirna, Nogo Agusto Alimin, Rommy, Sisca, Sugeng, dan Tri Untoro Kristanto.

Ahli psikologi klinis Josephine R. M.Psych berpendapat foto-foto yang dipamerkan itu menunjukkan bahwa kecantikan itu tidak dapat dinilai dari paras / wajah, kekuatan itu tidak dapat dinilai dari otot, dan kesedihan juga tidak dapat dinilai dari mimik / raut.

"Ada nilai yang ingin disampaikan fotografer dalam karyanya, seperti foto sepatu perempuan di antara deretan sepatu polisi laki-laki. Foto-foto yang ada juga menunjukkan tugas-tugas perkembangan yang dilakukan sejak dia masih kecil hingga tua," katanya.(*)

(T.E011/I007)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010