Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menegaskan, Pemerintah Indonesia tidak akan menanggapi substansi dokumen rahasia Amerika Serikat yang dibeberkan melalui laman "WikiLeaks" sekalipun sebagian isi dokumen itu disinyalir terkait Indonesia.

"Kemlu tidak akan memberikan komentar langsung terhadap substansi dokumen-dokumen itu," kata Menlu di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat petang seusai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima surat kepercayaan lima orang duta besar negara sahabat.

Menurut Menlu, pada hakekatnya hal tersebut adalah masalah pemerintah Amerika Serikat karena apapun isu dari dokumen itu adalah penilaian pemerintah Amerika Serikat.

"Kita mengikuti dari berita yang berkembang bahwa sebagai dari dokumen itu berasal dari Kedubes AS di Jakarta, tentu kita mengikuti dengan seksama tetapi pada hakekatnya ini adalah masalah AS, dan apapun isinya yang dilaporkan adalah penilaiai dari AS jadi kita jangan terlalu jauh," katanya.

Apalagi menurut Menlu kasus "WikiLeaks" itu terus berkembang karena pembocorannya dilakukan secara bertahap.

"Kita terus mengikuti, memantau apakah ada hubungan yang berkaitan dengan Indonesia, yang akan dibocorkan pula. (Tetapi itu) bukan dokumen Indonesia ya. Jadi sekarang kita ikuti dengan seksama," jelasnya.

Sebelumnya Menlu dan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring telah diperintahkan untuk memantau isi laman WikiLeaks oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto.

Beberapa waktu terakhir beredar kabar WikiLeaks akan membongkar memo-memo dari Kedubes AS yang menyoroti pertahanan di Indonesia, termasuk isu tentang Kopassus yang akan kembali bekerja sama dengan militer AS.

Pembocoran dokumen rahasia Amerika Serikat oleh WikiLeaks terus mengundang perhatian media, terutama dari negara yang merasa dirugikan atas bocornya dokumen rahasia tersebut, bahkan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton dan Sekjen PBB Ban Ki-moon sempat membahas hal itu pada Rabu (1/12).

Keduanya membahas "kekacauan" yang disebabkan oleh pembocoran dokumen-dokumen rahasia WikiLeaks yang menduga AS memata-matai pemimpin badan dunia itu secara rinci.

Laman WikiLeaks telah menyebarkan sejumlah dokumen rahasia Amerika Serikat yang terkait dengan hubungan dengan sejumlah negara.

Akibat hal itu, lembaga polisi dunia atau Interpol menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap pendiri laman itu, Julian Assange (39).

Assange yang mantan peretas komputer kini menjadi pusat perhatian dunia setelah WikiLeaks membocorkan ribuan pesan diplomatik rahasia AS di akhir pekan lalu.

Assenge yang lahir di Townsville, Queensland, bersembunyi sejak WikiLeaks secara kontroversial menyebarkan lebih dari 250.000 dokumen rahasia milik Pemerintah AS.(*)
(T.G003*F008/R018)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010