Petrokimia Gresik targetkan operasional pabrik soda ash akhir 2024

Petrokimia Gresik targetkan operasional pabrik soda ash akhir 2024

Penandatanganan nota kesepahaman secara virtual untuk menyukseskan target pembangunan pabrik soda ash di Gresik, Jawa Timur, Kamis (2/9/2021). ANTARA/HO-Petrokimia Gresik.

Ini menjadi peluang besar, soda ash Petrokimia Gresik nantinya memenuhi kebutuhan pasar domestik dan tidak menutup kemungkinan juga dapat melayani kebutuhan pasar global
Gresik, Jatim (ANTARA) - PT Petrokimia Gresik menargetkan operasional pabrik soda ash atau natrium karbonat (Na2CO3) berkapasitas 300 ribu ton pada akhir tahun 2024, yang akan menjadi pertama di Indonesia.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo di Gresik, Jawa Timur, Kamis, menjelaskan untuk menyukseskan target itu, pihaknya bekerja sama dengan PT Garam (Persero) dan perusahaan multinasional Unilever Asia Pte. Ltd melalui penandatanganan nota kesepahaman.

Ia menjelaskan nota kesepahaman dilakukan dalam rangka menjamin ekosistem bisnis rencana pembangunan pabrik soda ash, di mana Petrokimia Gresik akan membeli garam industri sebagai bahan baku soda ash serta bekerja sama dengan Unilever Asia sebagai offtaker yang akan menyerap produk soda ash.

"Kerja sama dengan PT Garam ini merupakan salah satu bentuk sinergi BUMN untuk meningkatkan perputaran perekonomian nasional sesuai dengan arahan pemerintah," kata Dwi, dalam siaran persnya.

Dwi mengatakan keberadaan pabrik soda ash sangat penting, dan menjadi terobosan transformatif mendukung kemajuan industri kimia nasional.

Seperti diketahui, soda ash merupakan bahan baku berbagai produk yang banyak ditemui sehari-hari, seperti sabun, deterjen, kertas, tekstil, keramik, gelas, kaca beserta turunannya dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kebutuhan soda ash di Indonesia sangat tinggi, namun saat ini suplainya 100 persen masih dipenuhi dari impor.

"Ini menjadi peluang besar, soda ash Petrokimia Gresik nantinya memenuhi kebutuhan pasar domestik dan tidak menutup kemungkinan juga dapat melayani kebutuhan pasar global," ujar Dwi.

Selain itu, pembangunan pabrik menjadi wujud komitmen perusahaan dalam memperkuat industri kimia nasional melalui strategi related diversified industry, yakni mengoptimalkan pemanfaatan produk samping menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah untuk mendukung industri lain.

"Pabrik ini meutilisasi produk hilir dari pabrik amoniak-urea berupa CO2 yang diolah menjadi soda ash. Dengan demikian, soda ash yang diproduksi Petrokimia Gresik lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku CO2 yang berasal dari proses reaksi kimia dalam pembuatan pupuk urea, bukan berasal dari pembakaran (combustion) bahan bakar fosil. Ini sejalan dengan prinsip Greenhouse Gas Emission (GGE)," kata Dwi.

Sedangkan, produk samping berupa Ammonium Klorida (NH4CL) dapat digunakan sebagai bahan baku NPK, sehingga dapat mengurangi kebutuhan ZA impor untuk bahan baku NPK.

"Melalui program hilirisasi ini diharapkan Petrokimia semakin mampu melaksanakan tugas pokok sebagai penopang ketahanan pangan nasional, sekaligus memperkuat industri kimia sebagai penggerak ekonomi nasional," katanya.

Sementara itu, bagi Unilever Asia, pendirian pabrik ini menjadi hal penting bagi struktur industri di Indonesia karena ini akan memanfaatkan sumber daya lokal untuk soda ash.

Direktur Utama PT Garam (Persero) Achmad Ardianto mengatakan kerja sama ini merupakan langkah besar PT Garam untuk mewujudkan rencana jangka panjang dalam berkontribusi menyediakan garam industri yang berkualitas.

"Selain itu juga membangkitkan kepercayaan bagi Unilever untuk mendapatkan produk berkualitas yang disuplai bahan baku dalam negeri yang juga berkualitas,” ujarnya.

Sementara itu, penandatanganan dilakukan secara virtual di dua tempat oleh Direktur Operasi & Produksi Petrokimia Gresik Digna Jatiningsih dan Direktur Utama PT Garam (Persero) Achmad Ardianto, di Gresik, Indonesia, serta Inorganics Procurement Director Unilever Asia Pte. Ltd., Pratishtha Garg di Pasir Panjang, Singapura.

Penandatanganan MoU, juga mendukung jalan panjang pemerintah dalam mencapai target substitusi impor sebesar 35 persen pada tahun 2022, dan untuk mengurangi ketergantungan impor terhadap barang modal dan bahan baku.

Baca juga: Petrokimia Gresik gandeng PLN dan beralih gunakan listrik 11,4 MW
Baca juga: Menteri BUMN aktifkan unit produksi oksigen di Petrokimia Gresik
Baca juga: Petrokimia Gresik catatkan laba sebesar Rp1,42 triliun pada 2020

Pewarta: A Malik Ibrahim
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar