Dubes Arief Havas dan Diplomasi "Tintin" di Brussel

Dubes Arief Havas dan Diplomasi "Tintin" di Brussel

Dubes LBBP RI Arif Havas Oegroseno (kanan) bersama Koresponden ANTARA London Zeynita Gibbons (kiri) saat menunjukkan kenang-kenangan komik Tintin yang berjudul The Adventures of Tintin: Flight 714 to Sydney karangan Herge, yang berisi cerita petualangan Tintin di Indonesia kepada Raja Albert II dari Belgia (ANTARA News/Zeynita Gibbons)

London (ANTARA News) - Wajah Raja Albert II dari Belgia terperanggah ketika Arif Havas Oegroseno (47) memberikan kenang-kenangan komik Tintin yang berjudul "The Adventures of Tintin: Flight 714 to Sydney" karangan Herge, yang berisi cerita petualangan Tintin di Indonesia.

Komik berbahasa Indonesia itu diserahkan Dubes Havas sesaat setelah menyerahkan surat kepercayaan sebagai Dubes LBBP RI untuk Kerajaan Belgia merangkap Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa yang berkedudukan di Brussel.

"Raja hanya tersenyum dan menyampaikan ucapan terima kasih," ujar Havas kepada koresponden ANTARA London saat ditanya bagaimana reaksi Raja Albert II ketika menerima kenang-kenangan dari Havas di Istana Raja di Palais Royal de Laeken, Istana Raja Belgia, belum lama ini.

Komik petualangan Tintin yang justru menceritakan mengenai Indonesia tersebut memperkenalkan kota Jakarta, bandara internasional Kemayoran, Makassar, kapal tradisional nelayan Indonesia, bahasa Indonesia, komodo, hingga sambal rujak ulek.

Dubes mengatakan, dia mengenalkan Indonesia melalui komik yang sangat populer di berbagai negara di dunia tersebut, dan ini membuktikan bahwa Indonesia sudah melekat di hati masyarakat Belgia sejak lama.

Raja Albert II menyampaikan ungkapan terima kasihnya atas cenderamata yang disampaikan serta penjelasan singkat Dubes RI Brussel yang diberikan mengenai Indonesia dan mengharapkan kiranya hubungan akrab kedua negara dapat lebih ditingkatkan.

Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M, dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Dubes LBBP RI untuk Kerajaan Belgia merangkap Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa di Jakarta pada 10 Agustus lalu.

Jabatan terakhir Arif Hayas adalah Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri RI. Lulusan Harvard Law School itu sebelumnya menamatkan pendidikan pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro di Semarang.

Arif Havas Oegroseno selama ini dikenal sebagai sosok diplomat tangguh di balik berbagai masalah perbatasan wilayah RI.

Diplomat karir lulusan Sekolah Dasar Dinas Luar Negeri Kementerian Luar Negeri tahun 1987 tersebut, memulai karir diplomatiknya pada Perwakilan Tetap RI di Geneva (1993-1997).

Pria yang gemar membaca ini kemudian merintis dibukanya kembali hubungan diplomatik Indonesia-Portugal yang dibekukan 1989 dan Kantor Urusan Kepentingan Portugal (1999-2000), serta Kedutaan Besar Republik Indonesia di Lisabon, Portugal (2000-2003).

Petualangan penerbangan 714
Dubes Havas sempat membelikan buku komik yang berjudul Penerbangan 714 ke Sydney, yang judul asli berbahasa Perancis "Vol 714 pour Sydney". Buku itu diterbitkan pertama kalinya pada tahun 1968, dan merupakan album ke-32 karya pengarang Belgia itu.

Komik Tintin yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, dan diterbitkan Penerbitan Indira pertama kali pada Desember 2008.

Saat berbincang bincang di cafe di pusat kota Brussel, Dubes Havas mengatakan bahwa dapat dibayangkan pada saat itu belum ada internet, tapi pengarangnya sudah dapat mengambarkan Bandara Kemayoran Djakarta.

"Kita akan mengunakan komik Tintin ini sebagai alat promosi pariwisata," ujar Havas yang menyebutkan bahwa ia telah minta staf KBRI Brussel untuk menghubungi penerbit Tintin untuk minta hak cipta atas buku penerbangan 714 ke Sydney ini.

Dalam komik Penerbangan 714 itu Tintin pun berkata kepada sang prof, "No Professor, we are not in Australia yet, its Djakarta."

Bahkan kata kata Indonesia pun masuk dalam komik Tintin tersebut seperti dalam halaman 15 edisi Bhs Inggris terselip kata kata "Kurang adjar, Apa tidak bissa Djaga sayapoenja lajar, Apa gilah,!" ujar nelayan yang kapalanya terkena kapal terbang yang ditumpangi Tintin yang mendarat di Makassar.

Dalam album ini diceritakan bagaimana Tintin dan kawan-kawannya yang sedang dalam perjalanan dari Eropa ke Australia mendarat di Jakarta untuk transit dan berpindah pesawat.

Secara tidak sengaja mereka terlibat petualangan luar biasa di Indonesia (aslinya disebutkan Sondonesia) dan bertemu dengan makhluk luar angkasa ketika pesawat mereka dibajak dan dipaksa mendarat di sebuah pulau terpencil di daerah Indonesia Timur.

Tokoh Tintin yang dilahirkan pada Januari, 79 tahun silam, pertama kali muncul dalam suplemen kartun Le Petit Vingtieme terbitan koran Brussel Le Vingtieme Siecle, tepatnya 10 Januari 1929.

Tintin adalah seorang wartawan, seseorang yang bertugas mencari berita. Akan tetapi, pada kenyataannya justru Tintinlah yang lebih banyak menjadi objek berita, bukan menulis berita.

Seri terakhir Tintin dan Seni-Alfa, 1983 tidak dapat diselesaikan oleh Herge yang meninggal dunia yang merupakan akhir dari petualangan Tintin pun berakhir.

Herge yang bernama asli George Remi merupakan bapak komik Belgia dilahirkan lahir 22 Mei 1907. Dia lebih populer dengan panggilan Herge, inisial namanya R.G. yang dibaca dalam ejaan Prancis menjadi Herge.

Karakter Tintin ditampilkan dengan cermat oleh Herge. Ini tercipta atas hasil riset dan survei Herge. Herge yang bekerja di koran harian dimudahkan dalam memperoleh referensi yang berupa tulisan, esai, majalah, kliping, koran, ensiklopedi, untuk mendukung inspirasinya.

Atas hasil riset dan surveinya ini, menjadikan apa yang digambarkan Herge dalam seting-seting tempat, budaya, alat, dan lainnya tampak persis seperti aslinya. Misalnya, mengenai penggambaran pakaian tradisional, benda bersejarah, konstruksi, bangunan, mesin, hingga alat transportasi.

Sebelum memulai setiap petualangan Tintin, Herge melakukan observasi pustaka secara mendalam. Tidak mengherankan jika Herge mampu menggambarkan suatu daerah yang didatangi Tintin dengan baik. Meskipun demikian, tak banyak orang tahu bahwa sesungguhnya Herge belum pernah pergi ke luar negeri seperti ke Indonesia.

Meskipun petualangan Tintin telah berakhir pada 1983, sesungguhnya Tintin tidak pernah mati di hati penggemarnya. Tintin telah menembus batas bangsa, budaya, dan ideologi.
(H-ZG/H-KWR/A038)

Oleh NON
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar