Pariaman (ANTARA News) - Puluhan ribu pengunjung padati Kota Pariaman, Sumatera Barat, menyaksikan puncak Pesta Budaya Tabuik (Tabot) 2010 di kota itu.

Pantauan ANTARA di Pariaman, Minggu, pengunjung yang banyak datang dari luar daerah tersebut memadati pusat kota Pariaman hingga ke tepi pantai.

"Saya sengaja datang ke Pariaman untuk menyaksikan Tabuik ini sekaligus mengabadikan momen Tabuik," kata Taufik, seorang pengunjung asal Kota Pekanbaru, Riau.

Ia juga mengajak rekan-rekan kerjanya untuk menyaksikan Tabuik karena tahun lalu Tabuik tidak digelar.

Pengunjung lainnya asal Padang, Bula Defrien mengatakan, dirinya sengaja pergi ke Pariaman menggunakan jasa kereta api wisata untuk menyaksikan Tabuik.

Bula mengaku baru kali ini menaiki kereta api wisata, sebab ada momen Tabuik di Pariaman yang akan mengundang perhatian banyak orang.

Akibat banyaknya pengunjung dengan ruangan yang tidak terlalu terbuka, usai Tabuik dilarung ke laut, terjadi stagnan arus kendaraan bermotor di sejumlah ruas jalan di Pariaman.

Wali Kota Pariaman, Mukhlis R saat memberikan sambutan mengatakan, dengan adanya kegiatan ini sangat membantu perekonomian masyarakat.

Menurutnya, bila saja satu orang bertransaksi sebanyak Rp5 ribu, banyak uang yang beredar selama kegiatan ini yang tentunya memberikan nilai positif bagi perekonomian masyarakat.

Ketua Pelaksana Pesta Budaya Tabuik Pariaman, Mardison Mahyudin, menyatakan Pesta Budaya Tabuik Piaman ini dilaksanakan memasuki tahun baru Islam 1 Muharram 1432 H/2010 M.

Ditambahkan, Mardison Mahyudin, sekitar 90 ribu orang hadir pada hari puncak.

Pengunjung, katanya, tak saja datang dari Sumbar, tapi juga beberapa daerah di Indonesia.

Kondisi itu sangat berdampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar terutama masyarakat sekitar kawasan Pasar Tabuik Pariaman.

Tabuik dilepas oleh Wali Kota Pariaman dengan menampilkan pawai anak-anak nagari dari 10 nagari di di Kota Pariaman.

Dua tabuik itu dihoyak-hoyak (diguncang, red) dan diadu seperti menggambarkan peperangan Karbala ditambah diiringi tabuhan gendang tasa.

Saat matahari tenggelam, dua Tabuik dari nagari Pasa dan Subarang dilarung ke laut disaksikan puluhan ribu pengunjung. (ANT-208/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010