Berlibur di tengah hadirnya varian Delta, apa kata pakar kesehatan?

Berlibur di tengah hadirnya varian Delta, apa kata pakar kesehatan?

Ilustrasi - Wisatawan lokal di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur memanfaatkan waktu liburan untuk berwisata ke pantai Lasiana yang menjadi salah satu destinasi wisata Kota Kupang. ANTARA/ Benny Jahang/am.

Jakarta (ANTARA) - Dilema terkadang muncul saat membahas rencana liburan di masa pandemi COVID-19, apalagi ada ancaman varian Delta. Di satu sisi, ada kekhawatiran terkena COVID-19 tetapi di sisi lain dorongan bisa rehat sejenak dari kesibukan kerja tak terelakkan. Lantas apa pendapat para pakar kesehatan, etiskah berlibur saat ini?

Pakar bioetika sekaligus co-founder firma konsultan bioetika Rogue Bioethics, Kelly Hills berpendapat etis saja bila Anda berasal dari kawasan dan tujuan liburan dengan 80 persen populasi sudah tervaksin dan kasus COVID-19 rendah.

Anda harus mengikuti pedoman kesehatan masyarakat secara ketat. Apabila Anda memutuskan akan bepergian, maka Anda bertanggung jawab atas tindakan Anda dan melakukan yang terbaik untuk meminimalkan penyebaran penyakit.

‚ÄčBaca juga: Liburan saat pandemi usai, lakukan ini untuk lindungi diri & keluarga

Sementara itu, peneliti kebijakan kesehatan di Brigham and Women's hospital and Harvard TC Chan School of Public Health, Dr. Thomas Chin-Chia Tsai melihat dari kacamata risiko bagi diri Anda dan orang lain.

"Setelah lebih dari satu setengah tahun perjalanan tertunda karena COVID-19, ada alasan yang sangat nyata mengapa individu mungkin ingin atau perlu melakukan perjalanan bahkan ke daerah dengan tingkat vaksinasi yang rendah misalnya untuk melihat keluarga. Sebagai peneliti kesehatan masyarakat, saya melihat hal ini sebagai salah satu risiko," tutur dia.

Dia mengatakan, bepergian tanpa vaksinasi menempatkan diri Anda dan orang lain dalam risiko terkena COVID-19. Sementara berkunjung ke daerah dengan tingkat vaksinasi rendah dan tingkat kasus COVID-19 tinggi juga secara inheren berisiko.

Sebagai pelancong yang divaksinasi, tetap penting untuk mengikuti pedoman maskapai dan yurisdiksi lokal seputar masker, skrining dan tes COVID-19.

"Kita berada pada tahap pandemi yang fokusnya secara kolektif mengambil tindakan yang dapat mengurangi penularan," tutur dia.

Di sisi lain, pakar epidemiologi di George Mason University Schar School of Policy and Government, Saskia Popescu juga mengajak Anda mempertimbangkan wilayah tinggal Anda, tujuan liburan dan tingkat penularannya.

Dia mengingatkan Anda tetap mempraktikkan upaya pencegahan infeksi, seperti mengenakan masker dan mengurangi waktu membukanya di dalam ruangan.

Selain itu, sebisa mungkin menghindari pengaturan dalam ruangan yang ramai dengan ventilasi yang tidak memadai dan lebih banyak melakukan hal-hal di luar ruangan sembari tetap mempraktikkan tindakan pencegahan COVID-19 lainnya.

Popescu tak menyarankan Anda bepergian setelah terpapar atau merasa tidak enak badan, demikian dilansir dari The Guardian.

Baca juga: Berlibur di masa pandemi, pilih lokasi udara terbuka jauhi keramaian

Baca juga: Saran dokter agar aman berlibur di tengah pandemi COVID-19

Baca juga: Kasus COVID-19 di AS capai 12 juta saat liburan "Thanksgiving"
 

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menparekraf kaji tur wisata berbasis vaksinasi COVID-19 di Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar