Pakar: Pembangunan pabrik baterai dorong permintaan kendaraan listrik

Pakar: Pembangunan pabrik baterai dorong permintaan kendaraan listrik

Peneliti Center For Public Policy and Public Management Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Agung Wicaksono. (ANTARA/HO-Humas SBM ITB)

Bandung (ANTARA) - Peneliti Center For Public Policy and Public Management Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Agung Wicaksono menuturkan pembangunan pabrik baterai akan mendorong permintaan kendaraan listrik.

"Untuk memajukan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur hilir di Indonesia diperlukan, salah satunya pabrik baterai kendaraan listrik. Infrastruktur yang memadai akan mendukung terciptanya permintaan kendaraan listrik di dalam negeri," kata Agung Wicaksono, dalam keterangan pers Humas SBM ITB, Selasa.

Dia mengatakan Indonesia perlu pengembangan kendaraan listrik atau battery-electric vehicle (BEV) untuk mengurangi penggunaan bakar bakar fosil yang selama ini sering digunakan.

Tujuannya, kata dia, ialah untuk menjaga ketahanan energi nasional dan sebagai konservasi energi yang ramah lingkungan.

Baca juga: Presiden Jokowi ingin RI keluar dari jebakan pengekspor bahan mentah

Menurut Agung bertambahnya jumlah kendaraan akan mengakibatkan penggunaan energi meningkat dan BPS bahkan mencatat, untuk kendaraan bermotor saja, jumlahnya selalu bertambah 8 persen setiap tahun.

Oleh karena itu, kehadiran kendaraan listrik yang ramah lingkungan diperlukan.

Selain dari Infrastruktur, Agung juga menekankan pentingnya edukasi atau informasi kepada masyarakat terkait dengan keunggulan dari penggunaan kendaraan berbasis listrik ini dibanding kendaraan konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil.

"Pemerintah juga perlu menginformasikan secara masif tentang insentif penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai untuk menarik minat masyarakat beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik," kata Agung.

Center of Policy and Public Management SBM ITB juga memberikan beberapa saran kepada pemerintah terkait pengembangan mobil listrik di Indonesia, diantaranya membuat regulasi dan kebijakan terkait percepatan pengembangan mobil listrik dan bahan bakar, memberikan insentif serta fasilitas penelitian dan pengambangan mobil listrik.

Baca juga: Bahlil sebut China juga akan "groundbreaking" pabrik baterai listrik

Selain itu, pemerintah juga perlu untuk berkoordinasi serta kolaborasi dengan beberapa kementerian dan lembaga pemerintahan untuk mendukung program ini.

Saran tersebut berdasarkan atas Policy Brief yang diterbitkan oleh CPPM SBM ITB bertajuk “Strategi Korporasi untuk Mengoptimalkan Pengembangan Kendaraan Listrik Baterai di Indonesia”.

Policy Brief tersebut dihasilkan melalui kajian bersama dengan Benriwan Simbolon ST, MBA, alumni program studi MBA ITB Jakarta.

Benriwan melakukan penelitian kepada para stakeholders di industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).

Ketika Policy Brief tersebut diterbitkan pada bulan Mei 2021, perjanjian awal (Head of Agreement) investasi pabrik baterai kendaraan listrik baru saja ditandatangani pada bulan yang sama.

Agung mengaku senang dalam waktu empat bulan setelah Policy Brief dibuat, pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik dilakukan di Karawang, Jawa Barat.

Infrastruktur hilir kendaraan listrik yang memakan anggaran sebesar Rp15,6 triliun itu diharapkan menjadi tonggak awal industri hilirisasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.
 

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menilik kendaraan tua diubah jadi motor bebas emisi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar