Supply Chain Indonesia ungkap empat tantangan setelah merger Pelindo

Supply Chain Indonesia ungkap empat tantangan setelah merger Pelindo

Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Pelindo III, Edi Priyanto saat menjelaskan konsep merger Pelabuhan Indonesia, dan saat ditemui di Surabaya, Jumat (17/9). ANTARA/Malik Ibrahim

SCI mengapresiasi keberhasilan Menteri BUMN Erick Thohir melakukan merger BUMN layanan jasa pelabuhan.
Jakarta (ANTARA) - Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengungkapkan empat catatan yang menjadi menjadi tantangan usai merger yang dilakukan PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), dan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero).

"Pertama, peningkatan dan standardisasi pelayanan di semua pelabuhan Pelindo yang didukung standardisasi proses, SDM, dan teknologi (fasilitas) dengan sistem informasi yang terintegrasi, baik antarpelabuhan maupun antara pelabuhan dan pengguna," kata Setijadi dalam keterangannya yang dipantau, di Jakarta, Minggu.

Setijadi mengatakan, yang kedua adalah penataan hub & spoke kepelabuhanan Indonesia, dengan tantangan utama mengurangi pelabuhan pintu ekspor-impor.

Pembatasan menjadi hanya 2-5 international hub port akan meningkatkan volume barang secara signifkan di beberapa pelabuhan hub ini yang berpotensi menarik direct call untuk mother vessel.

Ia menyatakan hal itu bisa menjadi strategi penting meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia secara global, termasuk mengalihkan pengiriman yang selama ini melalui Singapura.

Upaya itu harus dibarengi dengan penataan jaringan pelabuhan pengumpan (spoke)-nya bukan hal mudah, namun perlu menjadi prioritas dalam jangka panjang.

Ketiga, pengembangan sistem transportasi multimoda.

Pelindo dapat berperan mendorong integrasi pengiriman barang secara end-to-end dengan melibatkan perusahaan pelayaran dan operator transportasi jalan dan rel untuk meningkatkan efisiensi secara keseluruhan.

Analisis Pelni dan INSA menunjukkan biaya kepelabuhanan sekitar 31 persen dan biaya transportasi laut sekitar 19 persen, sementara biaya transportasi hinterland mencapai sekitar 50 persen.

Keempat, kontribusi terhadap pengurangan kesenjangan perekonomian antarwilayah. Pada tahun 2020, misalnya, distribusi Produk Domestik Bruto masih didominasi wilayah Jawa (58,75 persen) dan Sumatera (21,36 persen).

Setijadi menambahkan, SCI mengapresiasi keberhasilan Menteri BUMN Erick Thohir melakukan merger BUMN layanan jasa pelabuhan itu.

Ia berharap Pelindo akan berperan melalui pelabuhan-pelabuhannya di empat wilayah yang berkontribusi terhadap PDB masih rendah, yaitu Kalimantan (7,94 persen), Sulawesi (6,66 persen), Bali-Nusa Tenggara (2,94 persen), dan Papua (2,35 persen).

"Menurut UU No. 19/2003 tentang BUMN, selain mengejar keuntungan, salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN lainnya adalah memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya," katanya pula.
Baca juga: Empat BUMN sektor pelabuhan resmi merger menjadi satu Pelindo
Baca juga: Erick Thohir: Presiden RI Joko Widodo sudah sahkan merger Pelindo

Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Empat BUMN sektor pelabuhan resmi merger menjadi satu Pelindo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar