Samarinda (ANTARA News) - Balita kembar tewas terbakar dalam kebakaran yang terjadi di jalan Rumbia Gang Irama RT 20 Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Samarinda Ilir, Kalimantan Timur, Senin.

Dilaporkan, kebakaran yang menghanguskan enam petak rumah dan menewaskan balita kembar yakni Steven dan Kevin (3) itu terjadi sekitar pukul 10.30 WITA.

Kedua jasad korban baru bisa dievakuasi setelah petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan kobaran api setengah jam kemudian atau sekitar pukul 11.00 WITA.

Jasad putra kembar pasangan Fitri Hartati dan Yakobus Neuvlapo itu tewas terpanggang di dalam rumahnya dengan kondisi mengenaskan.

Keduanya ditemukan dalam kondisi tubuh tidak utuh lagi dengan posisi saling berpelukan diantara puing-puing rumahnya.

"Saat ditemukan, kedua tubuh anak itu terlihat saling perpelukan. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan karena beberapa bagian tubuhnya sudah hangus terbakar," ungkap seorang saksi mata di lokasi kebakaran.

Menurut keterangan warga, kebakaran tersebut diduga akibat kedua anak kembar tersebut tengah bermain api di dalam rumahnya.

Sebelumnya, pintu rumah itu terbuka sementara Kevin dan Steven terlihat tengah bermain di dalam. Namun saat kebakaran berlangsung, pintu sudah dalam posisi terkunci dari dalam.

"Jadi diduga penyebab kebakaran itu akibat kedua anak sedang bermain api sambil mengunci pintu dari dalam," ungkap seorang warga, Lukas, yang mengaku rumahnya juga hagus terbakar.

Warga kata Lukas sempat berupaya menolong kedua anak kembar tersebut.

"Saya bersama warga sempat mendobrak pintu dan saya masih melihat kedua anak itu terjebak kobaran api di dalam kamar. Tapi, kami tidak sempat menerobos karena api terus membara dan kayu plafon terus berjatuhan menimpa Kevin dan Steven," kata Lukas.

Fitri Hartati, ibu kedua anak kembar itu mengaku saat kejadian dia tidak berada di rumah.

"Saya meninggalkan Kevin dan Steven bersama kakaknya, Erik. Saat kebakaran berlangsung saya tengah berada di jalan Juanda dan saat sampai di rumah kedua anak saya itu sudah hangus terbakar. Awalnya, saya kira, Erik ikut terbakar tetapi ternyata kakaknya berhasil selamat," kata Fitri Hartati.

Ibu empat anak yang mengaku telah lama bercerai dengan Yakobus Neuvlapo itu mengaku setiap hari meninggalkan anaknya untuk bekerja sebagai tukang pijat keliling.

"Kalau saya pergi kedua kakaknyalah yang menjaga Steven dan Kenin. Kalau Opi (13) pergi sekolah maka Erik (7) menjaganya dan saat Erik sekolah Opi yang jaga adiknya," kata Fitri Hartati yang terlihat sangat terpukul menyaksikan jasad anak kembarnya itu.

Fitri Hartati nengaku, sebelum meninggalkan rumah, dia sudah menyembunyikan korek api. "Sebelum berangkat bekerja, saya sudah memasak dan korek api pasti saya sembunyikan," katanya.

Sementara, Wali Kota Samarinda, Sjaharie Jaang ditemui saat mengunjungi jasad kedua korban di kamar mayat RSUD AW Sjahranie Samarinda menyatakan, kebakaran yang menyebabkan dua balita tewas tersebut menjadi pelajaran bagi orang tua.

"Ini menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua agar tidak meninggalkan anaknya sendiri tanpa pengawasan orang dewasa. Jadi, saya meminta masyarakat agar lebih berhati-hati sebab lebih baik mengantisipasi daripada memadam api," ungkap Sjaharie Jaang.

Pihak Pemerintah Kota Samarinda kata Sjaharie Jaang akan memberikan santunan kepada keluarga dan para korban kebakaran tersebut.

"Pemberian santunan akan segera diberikan dan kami berharap agar musibah seperti ini tidak terulang lagi dengan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap musibah kebakaran," kata Wali Kota Samarinda itu.

(A053/S019/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011