Artikel

Eduard Ivakdalam arsitek tim emas sepak bola PON Papua

Oleh Muhsidin

Eduard Ivakdalam arsitek tim emas sepak bola PON Papua

Pelatih sepak bola Papua Eduard Ivakdalam diarak oleh para pesepak bola Papua usai menang atas tim Aceh pada babak final Sepak Bola Putra PON Papua di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Papua, Kamis (14/10/2021). ANTARA FOTO ANTARA FOTO/Zabur Karuru/hp.

Jayapura (ANTARA) - Euforia keberhasilan tim sepak bola putra PON Papua merebut medali emas putra di ajang event olahraga empat tahunan Indonesia masih terasa, meski PON XX telah berakhir sejak 15 Oktober 2021.

Raihan medali emas sepak bola putra PON XX Papua ini tentunya tidak terlepas dari polesan tangan dingin sang pelatih yang juga mantan 'jenderal' lapangan Persipura Jayapura, Eduard Ivakdalam (47).

Racikan strategi mengembangkan sepak bola modern kepada talenda muda Papua yang terus diterapkan pelatih Eduard Ivakdalam kepada skuat PON XX Papua yang dikomandoi Ricky Ricardo Cawor selama dua tahun empat bulan itu telah melahirkan catatan prestasi karir kepelatihan yang cukup mentereng di kancah nasional PON XX Papua.

Polesan strategi sepak bola modern pelatih Eduard Ivakdalam ini telah terbukti selama babak penyisihan hingga partai puncak final, dimana tim besutan Eduard Ivakdalam ternyata mampu meraih poin sempurna sebanyak 21 dari tujuh kali bertanding dan meraih kemenangan.

Hasil di babak penyisihan tim PON XX Papua, Ricky Ricardo Cawor dkk sangat produktif mencetak 22 gol dan hanya kebobolan tiga gol dari tujuh pertandingan selama perhelatan olahraga nasional di Tanah Air itu.

Pada babak penyisihan pembuka pertandingan PON, Papua sukses mengasak Jabar 5-1, Malut 3-1, NTT 4-0, Aceh 1-0, Sumut 2-0, Kaltim 5-1 hingga di babak final juga berhasil mengalahkan Aceh dengan skor 2-0. Ricky Cawor sendiri menjadi pemain tersubur alias top skor dengan koleksi 11 gol.

Baca juga: Papua raup emas sepak bola putra usai bungkam Aceh
Baca juga: Ricky Cawor jadi pemain tersubur dengan bukukan 11 gol

Pelatih Eduard mengakui bahwa taktik bermain sepak bola dari zaman ke zaman terus mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan bermain. Bahkan, taktik tersebut bisa berubah seusai perkembangan permainan sepak bola saat bertanding.

Terlebih pada era sepak bola modern seperti sekarang ini, menurut pelatih Eduard, kualitas permainan individu dari seorang pemain bukanlah kekuatan mutlak dan jaminan dari sebuah tim untuk mengalahkan lawan.

Artinya, jika ada satu hingga dua orang pemain yang menonjol di suatu klub atau tim sepak bola bukan berarti tim tersebut bisa memenangkan permainan dengan mudah.

"Para pelatih sepak bola saat ini sangat dituntut untuk menguasai beberapa formasi agar bisa memainkan banyak strategi ketika dihadapkan pada situasi tertentu," ungkap mantan kapten Persipura Jayapura.

Pola taktik bermain sepak bola terus dikembangkan klub-klub besar Eropa hingga timnas negara-negara Eropa dimana sebagian besar mereka mengembangkan pola permainan total football.

Strategi bermain sepak bola modern jika mampu diterapkan pemain saat bertanding, maka sangat asik untuk ditonton dan tidak monoton sehingga memberi banyak kepuasan kepada semua orang yang menonton.

Total football mengedepankan sepak bola menyerang agresif dengan kekuatan penguasaan bola tanpa meninggalkan segi pertahanan. Alhasil, ketika klub dan tim telah sempurna menerapkan sepak bola moden, maka dipastikan mereka mampu meraih prestasi.

Pola permainan sepak bola kembali berkembang pada dekade 1990 hingga 2000-an. Perkembangan formasi sepak bola pada dekade tersebut terletak pada segi variasi permainan.

"Untuk formasi yang digunakan saat bertanding masih sama dengan pola bermain 5-3-2, 5-4-1, 4-4-2, 4-3-3, 4-5-1, 3-5-2, hingga 3-4-3. ya, strategi bermain sangat bergantung kebutuhan di lapangan,"ujarnya.

Baca juga: Tiga pemain tim sepak bola PON Papua diminati klub Thailand

Selanjutnya : selepas PON

Oleh Muhsidin
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar