IDI NTT dukung wajib PCR anak 12 tahun naik pesawat

IDI NTT dukung wajib PCR anak 12 tahun naik pesawat

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Nusa Tenggara Timur, dr. Stef Soka. (Antara/HO- ist)

Kupang (ANTARA) - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Nusa Tenggara Timur, dr. Stef Soka mendukung wajib tes reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) bagi anak berusia di bawah 12 tahun yang melakukan perjalanan dengan pesawat udara.

"Kami mendukung kebijakan Pemerintah Pusat itu sebagai upaya mencegah terjadinya penyebaran COVID-19, karena penyebaran virus Corona sudah tidak lagi melihat batas usia," kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Nusa Tenggara Timur, dr. Stef Soka ketika dihubungi ANTARA di Kupang, Ahaf.

Dia mengatakan hal itu terkait adanya surat edaran Nomor 21 tahun 2021 yang dikeluarkan Satgas COVID-19 yang mengatur tentang RT-PCR bagi anak berusia di bawah 12 tahun yang melakukan perjalanan dengan pesawat udara.

Stef Soka menjelaskan setiap manusia baik anak maupun orang dewasa memiliki potensi yang sama untuk menularkan virus Corona.

Baca juga: Kebersamaan menjadi kunci sukses capaian vaksinasi Kota Kupang

Baca juga: GTPP: Kasus COVID-19 masih ditemukan di 30 kelurahan Kota Kupang


Sehingga pemberlakuan pemeriksaan PCR bagi anak berusia di bawah 12 tahun yang hendak melakukan perjalanan dengan pesawat udara merupakan kebijakan yang sangat strategis dalam mengantisipasi terjadinya penularan COVID-19.

"Kasus-kasus COVID-19 pada anak-anak juga termasuk tinggi, apalagi saat ini sudah mulai dibukanya Pembelajaran Tatap Muka (PTM), sehingga wajib PCR bagi anak-anak 12 tahun ke bawah merupakan sesuatu yang penting dilakukan," kata Stef Soka.

Dia menjelaskan melalui pemeriksaan tes PCR maka bisa mendeteksi dini apabila ada anak-anak berusia di bawah 12 tahun terpapar COVID-19.

Pemeriksaan wajib PCR terhadap anak berusia di bawah 12 tahun saat ini belum bisa dilakukan untuk perjalanan udara dalam wilayah NTT karena keterbatasan fasilitas PCR yang terbatas serta biaya pemeriksaan yang mahal.

"Biaya pemeriksaan PCR sangat mahal sehingga tentu bisa memberatkan warga NTT yang hendak berpergian dengan pesawat udara," kata Stef Soka.*

Baca juga: Pasar Modal Indonesia siapkan 50.000 dosis vaksin di Manggarai Barat

Baca juga: Dinkes NTT sebut lima kabupaten capaian vaksinasinya sangat rendah

Pewarta: Benediktus Sridin Sulu Jahang
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Mata Indonesia: Berdaya dengan rumput laut - Bagian 1

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar