Jakarta (ANTARA News) - Dua pejabat setingkat direktur di Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Jakarta, Sabtu, membuka nomor pengaduan keberadaan TKI di Jepang.

Direktur Penempatan Pemerintah Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Haposan Saragih membuka nomor pengaduan di 0816964341.

Sedangkan Direktur Perlindungan dan Advokasi Asia Pasifik BNP2TKI Sadono membuka nomor pengaduan di 08161831711.

"Untuk informasi keberadaan TKI perawat yang ditempatkan BNP2TKI dalam program `G to G` dengan pemerintah Jepang atau soal TKI pada umumnya dapat menghubungi nomor pengaduan itu. Langsung ditangani direktur," kata Kepala BNP2TKI Moh Jumhur Hidayat.

Jumhur menyebutkan sesuai data dari Kementerian Luar Negeri terdapat 31.517 orang WNI di Jepang, dan dari jumlah itu 16.704 merupakan TKI, termasuk 686 orang perawat dan pengasuh jompo yang ditempatkan BNP2TKI melalui program kerja sama antarpemerintah (G to G) antara Indonesia dan Jepang sejak 2008-2010.

Informasi terbaru mengenai keberadaan TKI, kata Jumhur, sebanyak 28 anak buah kapal WNI/TKI di daerah Isonomaki dilaporkan telah mengungsi ke daerah aman terdekat.

Lalu berdasarkan informasi dari asosiasi penyalur tenaga magang asing (IMM) Jepang terdapat 46 orang dari 57 orang tenaga magang IMM selamat, sedangkan 11 orang lainnya masih berusaha dihubungi.

Ia juga menyebutkan tim "relief" dari KBRI sudah berada di Miyagi dan Iwate, dua daerah yang sangat parah terlanda gempa dan tsunami.

Di Utsunomiya, 200 km sebelum Miyagi, katanya, tercatat 414 WNI, dimana 414 wni dan 95 plus keluarga diketahui keberadaannya pada enam tempat pengungsian.

"Belum ada catatan korban terkena dampak tsunami terhadap WNI/TKI," ucapnya.

Ia menambahkan berdasarkan informasi dari Yared Febriyanto (TKI perawat yang telah lulus ujian nasional keperawatan Jepang tahun 2010) kepada Haposan Saragih, tidak ada TKI perawat dan pengasuh jompo yang berada di Sendai atau Miyagi.(*)

(T.B009/C004)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011