New York (ANTARA) - Saham-saham Wall Street berakhir lebih tinggi pada perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), dengan saham-saham pertumbuhan terkemuka atau teknologi besar di pasar memulai kenaikan indeks karena investor mengabaikan data ekonomi Amerika Serikat yang mengecewakan.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 179,08 poin atau 0,5 persen, menjadi menetap di 36.100,31 poin. Indeks S&P 500 menguat 33,58 poin atau 0,72 persen, menjadi berakhir di 4.682,85 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 156,68 poin atau 1,00 persen, menjadi ditutup di 15.860,96 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor jasa-jasa komunikasi dan teknologi masing-masing meningkat 1,68 persen dan 1,19 persen, memimpin kenaikan. Namun, kelompok energi turun 0,30 persen mewakili persentase kerugian terbesar.

Terlepas dari kenaikan mereka, ketiga indeks utama saham AS mengakhiri sesi di bawah penutupan Jumat lalu (5/11/2021), mengakhiri kenaikan mingguan lima pekan berturut-turut.

Baca juga: Wall Street ditutup merosot, tertekan ancaman inflasi jangka panjang

Investor lebih menyukai saham-saham pertumbuhan (growth stocks) daripada saham yang dipersepsikan murah karena harganya di bawah nilai intrinsiknya (value stocks) dengan saham teknologi megacap yang dipimpin oleh Apple Inc dan Microsoft Corp menjadi pengangkat indeks-indeks acuan.

Data awal sentimen konsumen dari Universitas Michigan untuk November secara tak terduga turun ke level terendah 10 tahun, dan laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan lowongan pekerjaan hampir tidak beranjak dari rekor tertinggi bahkan ketika pekerja berhenti dalam jumlah rekor.

"Pasar melayang lebih tinggi hari ini meskipun laporan sentimen konsumen sangat lemah, karena inflasi tampaknya lebih merugikan konsumen daripada keuntungan perusahaan," kata David Carter, kepala investasi di Lenox Wealth Advisors di New York.

Suasana suram konsumen dapat mengkhawatirkan pengecer ketika musim belanja liburan semakin dekat, dan kemungkinan akan menarik pengawasan intensif terhadap laporan pendapatan ritel yang akan datang.

Walmart Inc, Target Corp, Home Depot Inc dan Macy's Inc termasuk di antara pengecer terkenal yang diperkirakan akan melaporkan keuangan mereka minggu depan.

Baca juga: Wall Street dibuka jatuh, tertekan lonjakan harga dan khawatir inflasi

"Investor akan fokus pada panduan dari pengecer untuk menentukan apakah inflasi akan mengurangi margin keuntungan atau apahak biaya-biaya dapat dilewati," tambah Carter.

Hasil ritel akan menandai hari-hari terakhir dari musim laporan keuangan kuartal ketiga yang sebagian besar optimis. Pada Jumat (12/11/2021), 459 perusahaan di S&P 500 telah melaporkan kinerja keuangannya. Dari jumlah tersebut, 80 persen menghasilkan laba yang mengalahkan konsensus, menurut Refinitiv.

Saham Johnson & Johnson terdongkrak 1,2 persen setelah raksasa perawatan kesehatan itu mengumumkan pemisahan menjadi dua perusahaan, membagi segmen perawatan kesehatan konsumennya dari bisnis farmasi/perangkat medisnya.

Tesla Inc jatuh 2,8 persen di tengah berita bahwa CEO Elon Musk telah menjual saham tambahan 700 juta dolar AS di bab berikutnya dari kisah yang dimulai dengan jajak pendapat Twitter Musk yang terkenal tentang apakah ia harus melepas saham di perusahaan yang ia dirikan.

Pembuat mobil listrik saingannya Rivian Automotive Inc melonjak 5,7 persen, mencatat kenaikan ketiga berturut-turut dalam beberapa hari sebagai perusahaan publik.

Saham Alibaba Group Holding yang tercatat di AS tergelincir 0,6 persen menyusul laporan raksasa e-commerce yang menunjukkan penjualan Singles Day paling lambat yang pernah ada.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 10,32 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,94 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Budi Suyanto
Copyright © ANTARA 2021