DPP PDIP: Sistem pemilu proporsional terbuka rugikan caleg perempuan

DPP PDIP: Sistem pemilu proporsional terbuka rugikan caleg perempuan

Tangkapan layar Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Bidang Kesehatan, Perempuan, dan Anak, Sri Rahayu, saat menjadi narasumber dalam webinar nasional Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bertajuk “Peran Partai Politik terhadap Keberhasilan Kader Perempuan di Pileg 2024” yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube Kongres Wanita Indonesia dipantau dari Jakarta, Rabu (17/11/2021). ANTARA/Tri Meilani Ameliya

Tantangan yang dihadapi perempuan yang ingin jadi anggota legislatif adalah keberadaan budaya patriarki yang mendominasi tata nilai sosial budaya di Indonesia.
Jakarta (ANTARA) - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Bidang Kesehatan, Perempuan, dan Anak Sri Rahayu mengatakan pemilu bersistem proporsional terbuka atau kemenangan berdasarkan suara terbanyak merugikan perempuan yang menjadi calon anggota legislatif karena adanya persaingan yang ketat.

"Sistem pemilu yang sekarang dengan sistem proporsional terbuka, yaitu suara terbanyak itu sangat merugikan perempuan," kata Sri Rahayu saat menjadi narasumber dalam webinar nasional Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bertajuk Peran Partai Politik terhadap Keberhasilan Kader Perempuan di Pileg 2024 yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube Kongres Wanita Indonesia dipantau dari Jakarta, Rabu.

Untuk mengatasi kendala tersebut, lanjut Sri Rahayu, diperlukan evaluasi terhadap sistem pemilu terbuka ataupun kebijakan perubahan menjadi tertutup sehingga keterwakilan perempuan di lembaga legislatif pun dapat meningkat.

Menurut dia, perempuan sering kali mengalami kekurangan dari segi persiapan logistik kampanye sebab tidak seluruhnya dapat bersikap mandiri untuk menyiapkan hal itu.

"Tidak semua perempuan atau calon anggota legislatif ini mandiri semuanya. Itulah menjadi faktor yang menimbulkan atau menyebabkan perempuan tidak bisa menjadi anggota legislatif," kata Sri Rahayu menjelaskan.

Selain itu, tantangan lain yang dihadapi perempuan saat ingin menjadi anggota legislatif adalah keberadaan budaya patriarki yang mendominasi tata nilai sosial budaya di Indonesia.

Menurut Sri Rahayu, gambaran tersebut dapat dilihat ketika perempuan dihadapkan pada pilihan di antara bergabung dalam dunia politik atau berpihak kepada keluarga, mereka cenderung akan memilih ataupun dituntut untuk berpihak kepada keluarga.

Ada pula kurang rasa percaya diri terhadap penilaian kemampuan dirinya yang mendominasi perempuan sehingga mereka merasa kurang mampu bersaing dengan laki-laki.

Untuk itu, Sri Rahayu menyarankan agar peningkatan kepercayaan diri secara berkelanjutan dapat diagendakan pula, baik oleh partai politik maupun Kowani, ke dalam program kerjanya sehingga perempuan dapat terjun ke dalam dunia politik.

"Perempuan ini harus dibuat memiliki percaya diri yang betul-betul mantap. Oleh karena itu, kami selalu mendorong kepada perempuan dalam pendidikan dan kaderisasi partai itu bagaimana bisa percaya diri sehingga kekuatan itu muncul dari dalam," kata Sri Rahayu.

Baca juga: Ketum Kowani: Keterwakilan perempuan di bidang legislatif masih kecil

Baca juga: MA terus perhatikan representasi keterwakilan hakim perempuan


Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar