Satgas COVID-19 gencarkan "tracing" dan "testing" tekan penyebaran

Satgas COVID-19  gencarkan "tracing" dan "testing"  tekan penyebaran

Tangkapan layar Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Sonny Harry dalam webinar "Jangan Halu, Pandemi Belum Berlalu", Senin (22/11/2021). ANTARA/Sanya Dinda

Jadi tidak ada pengendoran testing dan tracing
Jakarta (ANTARA) - Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan COVID-19 Sonny Harry mengatakan akan terus menggencarkan "tracing" dan "testing" yang sempat mencapai 195 ribu dalam satu hari untuk menekan penyebaran virus asal wuhan ini.

"Testing terus dilakukan secara masif karena itu peran dari satgas daerah menjadi sangat penting," kata Sonny dalam webinar "Jangan Halu, Pandemi Belum Berlalu" yang dipantau di Jakarta, Senin.

Pemerintah menargetkan melakukan "testing" sebanyak 270 ribu per minggu. Target tersebut saat ini telah tercapai meskipun mayoritas masih berupa tes antigen yang akurasinya lebih rendah daripada tes PCR.

Namun demikian, dengan tes PCR yang mencapai rata-rata 40 ribu sehari saja, jumlah testing Indonesia sebetulnya telah melampaui target.

"Jadi kalau dengan antigen, kita sudah jauh melampaui target. Jadi tidak ada pengendoran testing dan tracing," katanya.

Ia mengatakan akan terus mempertahankan jumlah "tracing" dan "testing" yang  sudah melampaui target tersebut dengan berbagi peran bersama kementerian dan lembaga lain serta satgas COVID-19 di daerah. Hal ini diharapkan juga akan membuat distribusi "testing" merata di setiap daerah.

"Memang ada keterbatasan pelaksanaan testing daerah sehingga kontribusi testing d Jawa dan Jabodetabek sangat tinggi terhadap jumlah testing nasional. Ini menjadi pekerjaan rumah terus menerus," katanya.

Karena dengan melakukan "tracing" dan "testing" akan diketahui siapa saja yang terjangkit COVID-19 dan siapa saja yang berpotensi menulari. Sebelum penyebaran terjadi, pemerintah pun bisa mengintervensi dengan mengisolasi atau mewajibkan pasien suspek dan probable untuk menjalani isolasi atau karantina.

"Tracing" dan "testing" pun dapat menjadi dasar pemerintah yang berkomitmen mengambil keputusan berdasarkan data dari berbagai konteks keilmuan.

"Kita kerja sama dengan konteks keilmuan multidisiplin untuk mengambil keputusan-keputusan yang didasarkan pada pertimbangan berbagai hal termasuk keilmuan lain," ujarnya.

Baca juga: Epidemiolog: Tracing ketat adalah standar utama pengendalian COVID-19
Baca juga: Pengamat nilai aplikasi PeduliLindungi efektif pantau masyarakat
Baca juga: DKI segera lakukan pelacakan terhadap kontingen PON Papua

Pewarta: Sanya Dinda Susanti
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kapolri dorong warga vaksinasi, antisipasi penularan varian Omicron

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar