counter

Harimau Sumatra Direlokasi

Harimau Sumatra Direlokasi

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) (ANTARA/Yudhi Mahatma)

Bengkulu (ANTARA News) - Seekor Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatrae) yang diamankan tim BKSDA Bengkulu dari Kabupaten Seluma akan direlokasi ke kawasan konservasi milik pengusaha Tommy Winata di Tambling, Provinsi Lampung.

Harimau betina yang diberi nama Tarisa (akronim dari Talang Sebaris Seluma) itu diamankan petugas BKSDA pada Maret 2011 karena sering berkeliaran di sekitar pemukiman warga Desa Talang Sebaris Kabupaten Seluma.

"Tarisa sudah siap direlokasi, rencananya diberangkatkan ke Tambling pada 26 April 2011," kata Kepala BKSDA Bengkulu melalui Kabag Tata Usaha, Supartono di Bengkulu, Kamis.

Ia mengatakan kondisi kesehatan Tarisa cukup baik sehingga memungkinkan untuk dipindahkan ke kawasan konservasi di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) itu.

Satwa berkaki empat itu diperkirakan berusia lebih dua tahun dengan berat sekitar 65 kilogram dan panjang 135 sentimeter.

Sebelumnya BKSDA berencana melepasliarkan satwa terancam punah itu ke kawasan hutan Sumatra di Bengkulu.

"Tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan ke Lampung," tambahnya.

Pada umumnya kata dia seluruh kawasan hutan di Sumatra merupakan habitat satwa berkaki empat itu tetapi kondisi hutan yang semakin menyusut membuat ancaman perburuan terhadap harimau semakin tinggi.

Namun, kondisi hutan Sumatera khususnya di Bengkulu yang rusak parah dan terfragmentasi membuat daya jelajahnya semakin sempit sehingga mudah diincar pemburu liar.

"Untuk Provinsi Bengkulu, dari 900 ribu hektare kawasan hutan, 40 persennya sudah rusak parah akibat perambahan liar," ujarnya.

Menurut catatan BKSDA, populasi harimau sumatera di Bengkulu hanya sekitar 50 hingga 70 ekor. Di seluruh wilayah Sumatera, populasinya tersisa 300-400 ekor.

Selain karena perburuan liar, populasi satwa ini juga terancam akibat konflik dengan manusia di perbatasan hutan dengan pemukiman.
(KR-RNI/M019)

Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar