Petani Maju 4.0 binaan PHM ajak pemuda bertani

Petani Maju 4.0 binaan PHM ajak pemuda bertani

Petani binaan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) yang sebagian besar anak muda di lahan pertanian Petani Maju 4.0 di Handil Baru Darat, Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim, Jumat (3/12/2021). ANTARA/Faisal Yunianto.

Pada dasarnya, program Petani Maju 4.0 adalah mengajak pemuda untuk kembali bertani
Kutai Kartanegara, Kaltim (ANTARA) - PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) memperkenalkan program inovasi pertanian pertakultur Petani Maju 4.0 kepada petani binaan di Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sebagai cara untuk menarik minat pemuda setempat menghasilkan produk pertanian yang ramah lingkungan dan bekelanjutan.

"Pada dasarnya, program Petani Maju 4.0 adalah mengajak pemuda untuk kembali bertani," kata Yuliantoro, salah seorang petani binaan PHM di Handil Baru Darat, Kutai Kartanegara, Jumat.

Ia mengatakan kondisi pemuda yang menganggur dan tidak berminat dengan pertanian serta kemampuan yang terbatas selama ini menjadi persoalan. Belakangan setelah PHM memberikan dukungan dan mengirim beberapa petani mengikuti pelatihan ke Jawa, muncul kolaborasi petani tua dan muda sehingga ada perluasan manfaat, yaitu pendampingan pemuda.

“Dari sana muncul inovasi lain, yaitu penggunaan drone dan aplikasi tanam digital,” ujarnya.

Sebanyak 33 pemuda secara berkelompok kemudian kembali bertani dan mengelola lahan di empat zona pertanian milik petani senior H Asnawi. Di sisi lain, Yuliantoro juga membuat inovasi yaitu biotasukei, inovasi dekomposer dari limbah organik sebagai ajang untuk menerapkan pertanian pertakultur.

Petani Maju 4.0 yang dikembangkan PHM bersama mitra binaan memiliki tiga keunikan. Pertama, kolaborasi petani muda dan tua. Kedua, inovasi dekomposer biotasuke dari limbah organik dan integrasi teknologi dan pertanian.

"Sementara masalah sosial yang diselesaikan adalah berkurangnya jumlah pemuda pengangguran sebanyak 13 persen dan pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan limbah organik,” kata Yuliantoro.

Tak hanya itu, program CSR Petani 4.0 PHM juga memiliki kebaruan berupa pertanian pertakultur dengan pengelolaan lahan ramah lingkungan yang mengadaptasi sistem pertanian permakultur. Selain itu juga mengedepankan aspek kebermanfaatan dan kemandirian bersama.

“Menariknya lagi, kami bertani 100 persen menggunakan bahan-bahan organik,” ujar Yuliantoro.

Shaqil Effendi (23 tahun), pemuda asal Kampung Kamal, Kecamatan Samboja, mengaku awalnya tak berpikir bakal menjadi petani. Meski lahir di tengah keluarga transmigran yang umumnya petani, warga Kelurahan Senipah ini sebelumnya lebih suka bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta. Namun kini dia terpanggil menjadi petani, karena dia melihat tidak ada regenerasi petani di desanya.

Faktor lain yang mendorongnya untuk bertani adalah pengenalan konsep pemanfaatan teknologi untuk pengembangan pertanian yang ditawarkan oleh PHM, yakni program Petani Maju 4.0. Hal itulah yang membuat Shaqil bersama 26 pemuda dari desanya, kini bergiat di bidang pertanian.

Sementara itu, petani mitra binaan PHM lainnya H Asnawi mengatakan dirinya bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Tani Digital telah mengembangkan pengelolaan pertanian pertakultur Petani Maju 4.0 sejak tahun 2018 di lahan miliknya seluas 4 hektare.

“Setelah kami menerapkan di sini dengan metode pertanian yang lebih ramah lingkungan, pertanian kami ada perubahan yang signifikan,” kata Asnawi saat bercerita tentang kelompok tani Petani Maju 4.0 di kebunnya.

Puluhan tanaman buah dan sayuran ditanam di kebun milik Asnawi. Kebun ini terbagi atas 4 zonasi. Ada kelompok sayuran, kelompok buah-buahan, dan juga ada zona perikanan dan pemeliharaan unggas. “Kami juga sediakan zona bagi anggota KWT yang setiap hari, mereka akan ke kebun ini,” ujarnya.

Asnawi mengembangkan kebun dengan konsep Petani Maju 4.0 sesuai dengan program pengembangan masyarakat (CSR) PHM. Sudah tiga tahun lalu PHM membina Asnawi dan kelompoknya. PHM telah mengidentifikasi berbagai persoalan terkait pengelolaan lahan tersebut.

Asnawi menyebutkan bahwa komoditas yang paling menarik hasil produksi lahan taninya adalah pepaya California. Pepaya dari hasil tani mitra binaan PHM di Samboja dipasok untuk katering perusahaan.

Tidak hanya itu, produk pertanian binaan PHM juga dipasarkan melalui aplikasi pemasaran daring (online) yang dilakukan oleh tiga remaja putri.

Fatimah yang bersama dua temannya sebagai pengelola Tani Digital mengatakan dia membantu petani memasarkan produk kepada konsumen melalui sistem online.

"Penjualan secara pre-order buah-buahan dan sayuran organik Petani Maju 4.0 binaan PHM saat ini telah mencapai pusat kota Balikpapan," katanya.

Frans A Hukom, Head Communications, Relations & CID PHM, mengatakan fokus program Petani Maju 4.0 di Samboja saat ini ada pada tahapan penguatan dan pengembangan dimana PHM aktif memberikan pelatihan dan pendampingan kader pemuda dan wanita tani.

“Harapannya pada 2022, program Petani Maju 4.0 dapat menjadi rujukan dan wilayah percontohan agrowisata ramah lingkungan di wilayah Kutai Kartanegara,” katanya.

Baca juga: PHM targetkan Petani Maju 4.0 jadi contoh agrowisata ramah lingkungan

Baca juga: Jaga tingkat produksi, PHM optimalkan biaya lewat Proyek Locomotive-8

Baca juga: Bor hingga 79 sumur, PT PHM lampaui target produksi

Baca juga: PHM Mengebor Sumur Eksplorasi Baru di Lapangan Tunu WK Mahakam

 

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar