Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi I DPR RI (bidang Luar Negeri dan Pertahanan), Fayakhun Andriadi mengatakan, sudah saatnya diakhiri sikap `saling gigit` di kawasan-kawasan perbatasan antar negara-negara ASEAN.

"Bagaimana kita mau mengeksiskan ASEAN sebagai perhimpunan negara-negara beradab, bermartabat dan bersahabat, jika kita masih saling menggigit didorong nafsu serakah ekspansionisme kawasan," tandasnya di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan itu kepada ANTARA, sehubungan menyambut pelaksanaan KTT ASEAN, 7-8 Mei di Jakarta.

"Menyambut KTT ASEAN, Indonesia yang mendapat giliran sebagai tuan rumah dan sekaligus Ketua ASEAN periode sekarang, harus bisa menegaskan pendiriannya, agar jangan lagi ada nafsu serakah saling menjegal di kawasan perbatasan," tegasnya.

Upaya mengikis perilaku serakah dan saling `gigit`, harus mulai dicanangkan di forum ini.

"Berapa saja korban manusia yang terjadi kini saat konflik perbatasan Thailand-Kamboja. Lalu, apakah nanti situasi panas ini bisa dijamin tak terjadi berkepanjangan, baik antar keduanya, atau antar negara di ASEAN lainya," tanyanya.

Fayakhun Andriadi lalu menunjuk potensi konflik (dalam berbagai skala) yang sewaktu-waktu terjadi juga antara RI-Malaysia, Filipina-Malaysia, RI-Singapura, bahkan RI-Vietnam di kawasan Natuna.

"Makanya, segeralah dituntaskan segala masalahnya. Karena sentimen yang dipicu akibat konflik perbatasan, tergolong sangat sensitif membangkitkan amarah rakyat," ujar politisi muda Partai Golkar yang tengah menuntaskan studi doktor ilmu politik di Universitas Indonesia ini.

Ia mengharapkan RI dapat memainkan peran penting dalam mengelola isu ini.

"Kewibawaan kita sebagai negara terbesar di ASEAN, apalagi dengan posisi keketuaannya, kiranya meningkatkan posisi tawar kita mengegolkan banyak hal demi kepentingan nasional dan kebersamaan di kawasan ini," katanya.

Ia juga mendesak Pemerintah segera mempercepat proses pengundangan kawasan perbatasan, sehingga par tetangga tida asal mengklaim wilayah laut, pulau atau daratan milik kita.

"Beranilah `dikit dan tegaslah senantiasa, sehingga kita tak terus menerus dianggap pecundang," pungkas Fayakhun Andriadi.
(*)

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2011