Jakarta (ANTARA News) - Sentimen negatif dari pasar global memicu aksi jual di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan awal pekan ini, ketika para investor memanfaatkan memburuknya pasar dunia untuk mengambil untung atas kenaikan tajam harga saham pekan lalu.

Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia ditutup jatuh 94,50 poin atau 2,44 persen ke posisi 3.778,46 setelah mencapai rekor tertinggi baru pada akhir pekan lalu. Sementara indeks LQ-45 turun 18,44 poin setara 2,67 persen menjadi 673,40.

Kekhawatiran menenai krisis utang Eropa, melemahnya pertumbuhan manufaktur di Asia, dan prediksi bakal melemahnya bursa Wall Street pada Senin (Selasa dinihari WIB) telah membuat saham-saham di bursa Asia berguguran, kata laporan Market Watch.

Sebagian besar indeks bursa Asia ditutup melemah, bahkan indeks komposit bursa Shanghai turun 2,9 persen lebih besar dari penurunan IHSG BEI.

Selama perdagangan hari ini tercatat 254 saham ditutup melemah, hanya 30 saham aktif yang harganya menguat, sedangkan 44 saham lainnya harganya tidak bergerak.

Nilai jual bersih oleh pelaku pasar asing (foreign net sell) tercatat mencapai Rp673,184 miliar.

Volume perdagangan mencapai 7,920 miliar saham senilai 5,038 triliun yang dihasilkan dari 130.222 kali transaksi.

Sebagian broker menilai pelemahan harga saham hari ini wajar ditengah memburuknya bursa dunia dan harga saham yang sudah tinggi menyusul rally pekan lalu.

Beberapa saham yang melemah antara lain Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN) turun Rp90 ke Rp1.450, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp300 ke Rp6.250, Bumi Resources (BUMI) turun Rp175 ke Rp3.350.

Dari bursa regional dilaporkan, indeks Hang Seng melemah 488,37 poin (2,11 persen) ke level 22.711,02, Nikkei-225 turun 146,45 poin (1,52 persen) ke level 9.460,63, dan indeks Straits Times melemah 59,52 poin (1,88 persen) ke level 3.109,02.

(ANTARA/S026)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011