Beijing (ANTARA News/AFP) - Kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan dua kota utama di China, Beijing dan Shanghai, memulai operasi komersial mereka pada Kamis -- sebuah langkah yang dilihat
sebagai penting untuk mengurangi tekanan pada sistem transportasi negara itu yang kelebihan beban.

Jalur rel kereta bernilai 33 miliar dolar AS, yang telah beroperasi pada percobaan dasar sejak pertengahan Mei, akan mengurangi hingga separuh waktu perjalanan menjadi di bawah lima jam dan bisa merugikan maskapai penerbangan yang beroperasi di rute sibuk yang diganggu oleh penundaan dan pembatalan penerbangan.

Link cepat, yang telah terpukul oleh kekhawatiran keamanan dan korupsi, dibuka satu tahun lebih cepat dari jadwal dan akan mampu membawa 80 juta penumpang per tahun -- melipatgandakan kapasitas saat ini pada rute berjarak 1.318 kilometer (820 mil).

"Itu bisa memainkan peran transformasional dalam membentuk dinamika ekonomi mndatang di pesisir China ... dengan menciptakan efek spillover lebih untuk kawasan sepanjang jalur kereta api berkecepatan tinggi yang luas," kata seorang analis di IHS Global Insight, Ren Xianfang kepada AFP.

Tapi untuk industri penerbangan, dampaknya bisa "merusak", dia memperingatkan.

Harga tiket satu arah berkisar antara 410 yuan hingga 1.750 yuan (63 dolar AS - 270 dolar AS) atau sekitar Rp543 ribu hingga Rp2,3 juta dikenakan penyesuaian lebih lanjut, Wakil Menteri Kereta Api Hu Yadong mengatakan awal bulan ini, dibandingkan dengan sekitar 1.300 yuan untuk penerbangan antara dua kota.

Cemas tentang kehilangan penumpang ke jalur baru, perusahaan penerbangan telah memangkas beberapa harga tiket sebanyak 65 persen menjadi di bawah biaya dari termurah kereta tersebut, kata media pemerintah Rabu, mengutip angka dari situs wisata ctrip.com.

Pengerjaan kereta api kecepatan tinggi dimulai pada April 2008 dengan rencana investasi 220,9 miliar yuan.

China telah berinvestasi besar dalam jaringan kereta api kecepatan tinggi, yang membentang 8.358 kilometer pada akhir 2010 dan diperkirakan akan melebihi 13.000 kilometer pada 2012 dan 16.000 kilometer pada 2020.

Namun investasi besar juga telah membuat sektor ini sarang korupsi, yang telah menimbulkan kekhawatiran atas biaya dan keamanan jalur rel kereta kecepatan tinggi.

Auditor negara China pada Maret mengungkapkan bahwa perusahaan konstruksi dan individu tahun lalu telah menyedot 187 juta yuan dalam dana yang dimaksudkan untuk jalur Beijing-Shanghai.

Ini diikuti pemecatan mantan menteri kereta api Liu Zhijun pada Februari, yang diduga telah mengambil lebih dari 800 juta yuan dari suap selama beberapa tahun pada kontrak terkait dengan jaringan kereta api kecepatan tinggi China.

Kementerian kereta api juga mengatakan kereta akan melaju dengan kecepatan antara 250 hingga 300 kilometer per jam pada jalur Beijing-Shanghai, meskipun jalur tersebut dirancang untuk kecepatan maksimum 380 kilometer per jam.

Kecepatan ini sejalan dengan instruksi nasional yang dibuat publik pada April yang mengatakan semua kereta api berkecepatan tinggi harus dijalankan pada kecepatan yang lebih lambat dari yang sebelumnya diumumkan -- tidak lebih cepat dari 300 kilometer per jam -- untuk membuat perjalanan lebih aman. (A026/A011/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011