BKKBN: Cegah stunting dan obesitas penting untuk SDM berkualitas

BKKBN: Cegah stunting dan obesitas penting untuk SDM berkualitas

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Muhammad Rizal. M. Damanik dalam webinar “Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas” dari Royco, Selasa (25/1/2022) (ANTARA)

Jakarta (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menegaskan agenda untuk mencegah stunting dan obesitas dalam mengatasi permasalahan gizi di Indonesia penting untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. 

"Banyak masyarakat mengalami stunting, di sisi lain, ada juga yang obesitas. Keduanya sangat berpengaruh terhadap pembangunan SDM berkualitas dan berdaya saing," kata Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Muhammad Rizal. M. Damanik dalam webinar, Selasa.

Stunting yang merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi dalam waktu lama dapat mempengaruhi seluruh organ tubuh. Stunting disebabkan faktor kurangnya pengetahuan soal gizi, faktor ekonomi, kebersihan personal, kesehatan lingkungan dan penyakit. Sementara obesitas dipicu oleh asupan makanan yang tidak dibarengi aktivitas fisik yang sesuai. Obesitas juga dapat disebabkan oleh faktor genetik, penyakit hingga stres.

Baca juga: Komnas PT: 39,5 persen bayi lahir kerdil dari keluarga perokok

Kedua hal itu, kata Rizal, dapat mengganggu pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

Dia menuturkan, angka prevalensi anak lahir dalam keadaan kerdil (stunting) telah menurun menjadi sebesar 24,4 persen di akhir tahun 2021. Ini merupakan peningkatan bila dibandingkan dengan angka stunting Indonesia pada tahun 2019 yang masih tinggi yakni 27,67 persen. Meski sudah menurun, angka tersebut masih melewati batas yang bisa ditoleransi oleh Badan Kesehatan Dunia, yakni 20 persen.

"Tentunya dengan adanya pandemi merupakan suatu tantangan buat para keluarga di Indonesia untuk menyiasati soal pandemi, tapi alhamdulillah data menunjukkan 2021 turun jadi 24,4 persen," kata Rizal.

BKKBN akan membuat rencana aksi nasional yang diterapkan di seluruh provinsi dalam menangani persoalan gizi, menyasar anak-anak muda menjadi orangtua, orang-orang dewasa kelompok usia subur, ibu hamil dan menyusui serta bayi demi mencegah terjadinya stunting.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional sebagai pelaksana percepatan penurunan stunting nasional turut bekerjasama dengan pihak swasta dalam program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa/kelurahan sebagai upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga berisiko stunting melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

Baca juga: Menkes minta semua pihak terlibat aktif perbaiki gizi anak bangsa

Baca juga: ASNI: Nutrisionis perlu berinovasi serukan gizi sehat cegah kekerdilan

Baca juga: Dokter: Orang tua yang merokok pengaruhi pemberian gizi pada anak

 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar