London (ANTARA News) - Indonesia mendukung upaya Badan Tenaga Atom Internasional dalam memperkuat standar dan rejim keselamatan nuklir global, serta berpandangan bahwa tingkat keselamatan nuklir yang ada sangat menentukan masa depan pemanfaatan tenaga nuklir di dunia.

Hal ini disampaikan Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja, Wakil Tetap Indonesia untuk IAEA dan Ketua Delegasi RI pada Konferensi Umum ke-55 Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang berlangsung di Markas Besar IAEA di Wina, Austria.

Kegiatan itu berlangsung dari tanggal 19 hingga 23 September 2011, ujar Sekretaris Pertama Kedutaan Besar/Perwakilan Tetap RI Wina, Austria, Lalu M. Iqbal dalam keterangannya pada ANTARA London, Kamis.

Dikatakannya selain mempertegas pandangan Indonesia mengenai pentingnya tingkat keselamatan nuklir yang tinggi, Indonesia juga menyampaikan dukungannya terhadap upaya IAEA untuk mempromosikan pemanfaatan tenaga nuklir untuk pembangunan berkelanjutan, seperti untuk keperluan medis/kesehatan, lingkungan hidup, pertanian, perternakan dan manajemen sumber air.

Sejumlah mata acara penting yang dibahas dalam Konferensi Umum IAEA kali ini, antara lain adalah pengesahan langkah-langkah konkrit yang akan dilakukan IAEA dalam bidang keselamatan nuklir, pemanfaatan teknologi nuklir untuk pembangunan berkelanjutan.

Selain cara-cara memperkuat "safeguard" IAEA, guna menjamin pemanfaatan tenaga nuklir secara eksklusif hanya untuk maksud-maksud damai, penyelesaian isu nuklir di Korea Utara, safeguard IAEA serta upaya ke arah mewujudkan Kawasan Bebas Senjata Nuklir di Timur Tengah.

Sejak menjadi anggota pendiri IAEA pada tahun 1957, Indonesia aktif memanfaatkan tenaga nuklir untuk pembangunan berkelanjutan.

Teknologi nuklir di Indonesia memberikan kontribusi besar dalam pengembangan varietas-varietas tanaman unggul, memproduksi radioisotope yang diperlukan bagi perawatan kanker dan berbagai penyakit lainnya, pengelolaan sumber daya air termasuk mengidentifikasi air bawah tanah, hidroisotope untuk mengidentifikasi sumber-sumber geothermal, dan lainnya.

Dengan pengalaman panjangnya tersebut, Indonesia saat ini telah menjadi negara yang paling tinggi aktivitas nuklirnya di Asia Tenggara dan Pasifik Barat serta paling maju, baik dilihat dari penguasaan serta aplikasi teknologinya, maupun dilihat dari jumlah ilmuwannya.

IAEA bahkan menjadikan Indonesia sebagai model bagi negara-negara berkembang lain dalam hal pemanfaatan nuklir untuk maksud-maksud damai.

Konferensi Umum IAEA adalah otoritas tertinggi dalam struktur pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan IAEA, berlangsung setiap tahun guna membahas berbagai aspek ketenaganukliran, baik yang terkait dengan pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai maupun yang terkait dengan upaya bersama mencegah upaya pengembangan senjata nuklir di dunia.

Konferensi Umum ke-55 kali ini dihadiri delegasi tingkat tinggi dari 151 negara anggota IAEA. Delegasi Indonesia ke Konferensi Umum IAEA kali ini terdiri dari unsur BATAN, BAPETEN dan Kementerian Luar Negeri RI.

(T.H-ZG/B/C004)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011