Tradisi ziarah kubur di hari raya Idul Adha

Tradisi ziarah kubur di hari raya Idul Adha

(ANTARA/Nyoman Budhiana)

Pekeburan yang bisanya sunyi senyap, pada Hari Raya Idul Adha ini menjadi ramai.

Bacaan surat Al Fatihah, yang merupakan surat pertama dalam kitab suci Al Quran, begitu jelas terdengar dari dalam areal tempat pemakaman umum (TPU) Kampung Sukarehe, Kelurahan Pagadungan, Kecamatan Karangtangjung, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Surat tersebut terdengar saling "susul-menyusul" dari ratusan warga yang berziarah di makam saudaranya yang telah meninggal.

Tidak hanya itu, para peziarah juga membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas, dilanjutnya beberapa ayat dari surat Al Baqarah, kemudian ayat Kursi.

Kuburan yang bejajar rapi, dan biasanya penuh ditumbuhi rumput dan ilalang, pada hari raya ini terlihat bersih. Tidak ada satu pun tumbuhan hutan yang ada. Yang masih tersisa hanya tanaman bunga yang memang sengaja di tanam oleh ahli waris untuk peneduh.

Warga keluar-masuk ke lokasi itu beriring-iringan. Banyak di antaranya yang datang menggunakan kendaraan roda empat dan dua, tapi tidak sedikit yang berjalan kaki.

Masyarakat yang baru datang langsung masuk ke areal pekeburan, dan mendatangi makam keluarganya. Adab layaknya bertamu dijalankan oleh masyarakat. Ketika tiba di dekat kuburan mereka pun berucap salam, "Assalmuaikum yaa ahli kubur".

Setelah itu, mereka duduk di sisi makam, dan "sang pemimpin" langsung membaca doa mendoakan siapa pun gerangan yang terbaring tenang di alam kubur.

Bersalam-salaman dan saling meminta maaf pun dilakukan warga ketika saling bertemu. Suasana penuh kerakraban terlihat jelas di areal makam yang luasnya sekitar dua hektare tersebut.

"Ini kebiasaan yang kita lakukan. Setiap usai menjalankan ibada Salat Ied, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, kami sekeluarga menziarahi mekam keluarga yang telah meninggal di Kubutan Sukarehe," kata Muhamad Arief, warga Kampung Pasirandu, usai ziarah pada kuburan ayahnya.

Menurut dia, sebagian anggota keluarganya yang meninggal di makamkan di TPI tersebut, jadi ketika berziarah kiriman doa pun disampaikan pada seluruh almarhum dan almarhumah.

"Sekali berziarah, saya kirimkan doa pada semua arwah keluarga khususnya dan seluruh arwah muslimin dan muslimat yang telah meninggal pada umumnya," katanya.

Hal senada disampaikan Encep Yunus, yang ditemui usai berziarah pada makam ayahnya serta kurburan saudaranya yang lain.

"Sepertinya ada yang kurang kalau kita datang ke makam keluarga dan tak menziarahinya, ketika Idul Fitri dan Idul Adha," katanya.

Encep mengaku, tidak ada tujuan lain dalam ziarah tersebut, tapi hanya ingin mendoakan mereka yang telah meninggal dan berharap semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya dan menempatkannya di sisi Rahmat-Nya.

Ustadz Ahmad Syatibi menjelaskan, kebiasaan ziarah kubur merupakan hal yang baik, kalau niatnya hanya untuk berkunjung dan mendoakan saudara yang meninggal serta ahli kubur lainnya.

"Ibaratnya begini, kita mendatangi kuburan mereka untuk bersilaturahmi, sekali memberikan `bingkisan` berupa doa. Jangan ada maksud lainnya karena dikahwatirkan syirik," ujarnya.

Pantauan di TPU lain, seperti TPU Pagadungan dan TPU Karangtanjung juga terlihat situasi yang sama. Puluhan warga datang ke lokasi itu dan memanjatkan doa untuk ahli kubur.



Hukum

Berbagai literatur menyebutkan, ziarah kubur hukumnya sunah. Rasulallah Muhammad SAW dan para sahabatnya juga menjelankan ziarah kubur, jadi tidak ada dasar sama sekali untuk melarang ziarah kubur, karena kita semua tahu bahwa Rasulallah pernah ziarah ke makam Baqi' dan mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada para ahli kubur di makam Baqi' tersebut.

Rasulallah SWA bersabda, "Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana. (H.R. Muslim).

Kemudian Dari Abu Hurairah RA. Rasulallah SAW bersabda: "Aku meminta izin kepada Allah untuk memintakan ampunan bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengizinkan. Kemudian aku meminta izin kepada Allah untuk berziarah ke makam ibuku, lalu Allah mengijinkanku. (H.R. Muslim).

Selanjutnya, dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW ziarah ke makam ibunya kemudian menangis lalu menangis lah orang-orang sekitarnya. (H.R. Muslim-hadis ke-2.256) dan (Al Hakim-hadis ke 1.390).

Menurut pendapat Imam Ahmad bin Hanbal Ibnu Qudamah dalam kitabnya ?Al-Mughni? menceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya pendapatnya tentang masalah ziarah kubur, manakah yang lebih utama antara ziarah kubur ataukah meninggalkannya. Beliau Imam Ahmad kemudian menjawab, bahwa ziarah kubur itu lebih utama.

Kemudian Imam Nawawi secara konsisten berpendapat dengan hukum sunahnya ziarah kubur. Imam Nawawi juga menjelaskan tentang adanya ijma' dari kalangan ashabus Syafii (para pengikut Imam Syafi'i) tentang sunahnya ziarah kubur.

Doktor Said Ramadlan Al Buthi juga berbendapat dengan pendapat yang memperbolehkan ziarah kubur. Al-Buthi berkata, "Belakangan ini banyak dari kalangan umat Islam yang mengingkari sampainya pahala kepada mayit, dan menyepelekan permasalahan ziarah ke kubur."

Melihat bahwa tidak alasan untuk melarang ziarah kubur, bahkan oleh pengikut Imam Syafi`i menghukuminya sebagai tindakan sunah, maka berziarah, yang menjadi kebiasaan umat Islam di Pandeglang dan Banten umumnya merupakan hal positif dan perlu terus dilaksanakan.

Terlepas dari hukum ziarah menurut agama, berkumpulnya masyarakat di areal pekuburan juga menimbulkan hal sangat baik, karena mereka bisa tertemu, bersilturahmi serta salim memaafkan.
(ANT)


Oleh Sambas
Editor: Desy Saputra
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Pandemi, tradisi ziarah kubur jelang Ramadhan sepi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar