Resensi film

Ketika liburan musim panas menjadi malapetaka di film "Shark Bait"

Oleh Lifia Mawaddah Putri

Ketika liburan musim panas menjadi malapetaka di film "Shark Bait"

Poster film "Shark Bait". (IMDB.Com)

Jakarta (ANTARA) - Para pecinta film tentang ikan hiu pasti sudah tak asing dengan beberapa judul seperti "47 Meters Down", "The Meg", "Jaws", "Bait" dan lain sebagainya. Di antara deretan film tentang serangan hiu tersebut, "Shark Bait" akan segera hadir untuk menambah panjang deretan judul film bertema laut dan serangan hiu.

Sama-sama diproduseri oleh produser "47 Meters Down" dan "Great White" yakni Andrew Prendergast dan Chris Redd, "Shark Bait" memiliki alur kisah yang mirip dengan kedua film tersebut.

"Shark Bait" menceritakan tentang 5 orang sahabat yaitu Nat (Holly Earl), Tom (Jack Trueman), Milly (Catherine Hannay), Tyler (Malachi Pullar-Latchman) dan Greg (Thomas Flynn) yang sedang menikmati liburan musim panas sambil berpesta bersama. Saat sedang asik berpesta, kelima orang sahabat tersebut pun mendapat peringatan dari seorang pengemis tua (Manuel Cauchi) tentang serangan hiu dan mengaku telah kehilangan kakinya karena diserang oleh seekor hiu putih yang besar dan ganas.

Sayangnya, kelima anak muda tersebut pun tak mengindahkan peringatan dari pengemis tua itu. Alih-alih kembali ke tempat yang aman, mereka justru bermain-main ke pantai hingga akhirnya mereka menemukan sepasang jet ski di dermaga. 

Baca juga: Satu setengah jam berkejaran dengan hiu dalam "47 Meters Down"

Baca juga: "The Meg" yang asli lebih tak seperti gambaran di film


Mereka tertantang Tom, Milly, Tyler dan Greg memutuskan untuk mencuri jet ski tersebut untuk bersenang-senang, namun Nat tidak setuju dengan keputusan tersebut dan memperingati empat sahabatnya agar tidak menggunakan jet ski itu. Nat yang memiliki firasat buruk berusaha mencegah empat sahabatnya, namun mereka tetap bersikeras untuk mengambil jet ski tersebut demi menyempurnakan kesenangan pesta musim panas mereka sebelum kembali pulang.

Meski merasa tidak nyaman menggunakan jet ski curian itu, Nat yang sempat menolak pada akhirnya tetap ikut mengarungi tepi laut bersama empat sahabatnya. 
 
Salah satu adegan dalam film "Shark Bait" (ANTARA/HO)


Awalnya mereka bersenang-senang dan berteriak penuh kegiranan, namun kesenangan kelima sahabat ini pun berubah menjadi ketegangan tatkala jet ski yang mereka kendarai tidak sengaja saling bertubrukan dan menyebabkan kaki Greg terluka parah. Darah yang berasal dari luka Greg itulah yang kemudian memancing hiu, sang predator, menghampiri dan berusaha memangsa mereka.

Keadaan pun semakin diperparah karena setelah bertabrakan, hanya satu jet ski yang masih bertahan. Awalnya mereka berpikir dapat kembali dengan satu jet ski itu. Namun naas, jet ski tersebut mengalami kerusakan mesin sehingga tak bisa digunakan. Mereka pun juga tak dapat menelpon bantuan karena tidak mendapatkan sinyal dari tengah laut.

Ketegangan demi ketegangan pun semakin hadir di tengah perjuangan mereka untuk bisa kembali ke pantai. Selain itu, berbagai masalah pun muncul menguji seberapa kuat tali persahabatan serta rasa cinta yang terjalin di antara mereka.

Masalah yang muncul sengaja dihadirkan untuk menambah bumbu berupa drama di tengah perjuangan lima anak sahabat yang ingin hidup dan kembali pulang. beberapa masalah juga dihadirkan dengan tujuan untuk menambah ketegangan, namun tak jarang alih-alih menambah rasa tegang penonton kerap dibuat kesal dan gemas dengan cara para tokoh dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah.

"Shark Bait" vs "47 Meters Down"

Jika "Shark Bait" dibandingkan dengan film Andrew Prendergast lainnya yakni "47 Meters Down" dan "Great White", "47 Meters Down" masih lebih unggul dari segi kengerian dibandingkan dengan film terbaru Pendergast ini. Selain itu permasalahan yang disajikan di "47 Meters Down" juga lebih kompleks sehingga penonton pun akan merasa mustahil bagi para tokoh untuk bisa kembali dengan selamat.

"47 Meters Down" juga memiliki akhir kisah yang tak terduga alias plot twist yang membuat para penonton terkejut. Dalam "47 Meters Down, penonton sempat diajak untuk merasa lega dan tenang karena mengira film tersebut akan berakhir bahagia, namun kenyataan justru berbanding terbalik. Pada "Shark Bait" tidak ada plot twist atau akhir yang dianggap memuaskan.
 
Salah satu adegan dalam film "Shark Bait" (IMDB.Com)
 
Salah satu adegan dalam film "Shark Bait" (IMDB.Com)


Dari sisi sinematografi, pengambilan gambar dilakukan di bawah arahan sutradara James Nunn yang tampaknya kurang menonjolkan sisi predator si ikan hiu. Hiu yang menjadi sosok antagonis utama hanya muncul sekilas dan penyerangan yang terjadi tidak "sebuas" yang terjadi di "47 Meters Down". Pendergast tampaknya menyiasati minimnya adegan penyerangan dengan sejumlah adegan jumpscare yang dihadirkan untuk kembali memicu adrenalin para penonton.

Minimnya adegan penyerangan ini membuat ketegangan dari "Shark Bait" jadi kurang mengena, belum lagi drama yang ditimbulkan dari aneka masalah juga tidak cukup menjadi bumbu penambah ketegangan namun justru membuat gemas penonton.

Nuansa ketegangan dalam "Shark Bait" banyak diperlembut dengan drama persahabatan, kisah kasih asmara hingga pengorbanan yang cukup menguras emosi penonton. Drama yang disajikan inilah yang menjadikan "Shark Bait" lebih memiliki alur kisah yang beragam dibandingkan dengan deretan film serangan hiu lainnya. Drama ini cukup memberi warna sehingga penonton tidak cepat bosan dengan latar adegan yang sebagian besar hanya dilakukan di tepi laut. 

"Shark Bait" direncanakan akan tayang pada 1 Juli 2022 mendatang.

Baca juga: Hope Reef libatkan masyarakat restorasi terumbu karang lewat film

Baca juga: Evolusi teror hiu di dunia film

Baca juga: Kang Ha-neul ciptakan karakter bajak laut kikuk lewat gaya rambut

Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar