Kemendikbudristek bermitra dengan swasta untuk turunkan stunting

Kemendikbudristek bermitra dengan swasta untuk turunkan stunting

Ilustrasi - Seorang anak mendapat pelayanan pemeriksaan kesehatan di Pos Pelayanan Keluarga Berencana Kesehatan Terpadu (Posyandu) untuk menghindari kasus stunting pada anak di Mamuju, Sulawesi Barat. ANTARA FOTO/Akbar Tado/hp/aa. (ANTARA FOTO/AKBAR TADO)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dan PT. PT Abbott Products Indonesia (Abbott) menandatangani Perjanjian Kerja Sama tentang Dukungan Program Pendidikan Kesehatan dan Nutrisi dalam Upaya Penurunan Stunting di Indonesia.

“Kemendikbudristek menyambut baik kerja sama ini dan sangat mengapresiasi Abbott yang secara bersama-sama mencari penyelesaian terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk terhadap kasus stunting,” kata Direktur Pendidikan Anak Usia Dini Muhammad Hasbi dalam keterangan resmi, Kamis.

Baca juga: Ahli ingatkan pentingnya aktivitas fisik bagi anak-anak

Kedua pihak sepakat untuk mendukung agenda Pemerintah melalui kontribusi aktif dalam akselerasi penurunan prevalensi stunting di Indonesia melalui edukasi seputar pentingnya mengukur tinggi badan anak secara rutin. Kemitraan Abbot-Kemendikbudristek akan berjalan hingga satu tahun ke depan, hingga Desember 2023.

Kerja sama itu, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengukuran tumbuh-kembang secara teratur, intervensi gizi yang tepat, dan pemberdayaan institusi PAUD.

Ia berharap kerja sama ini menjadi contoh dan acuan untuk sektor maupun perusahaan lainnya agar bersama-sama dengan pemerintah bahu-membahu menghadapi berbagai persoalan yang ada di Indonesia.

Baca juga: Pentingnya strategi pemberian MPASI yang baik guna cegah stunting

Tumbuh-kembang anak usia dini memberi pengaruh besar terhadap kehidupan mereka selanjutnya. Institusi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran strategis dalam pencegahan, mitigasi, dan penanganan kasus balita stunting melalui pengukuran tinggi badan anak secara rutin.

Selain itu, PAUD juga menjadi wadah pelaksanaan kegiatan bermain-belajar yang memberikan stimulasi psikososial dan perkembangan sesuai usia, menjadi simpul bagi layanan kesehatan dan gizi, serta menjadi wadah bagi pembelajaran seputar pola asuh dan tumbuh-kembang anak.

Ruang lingkup Perjanjian Kerja Sama Kemendikbudristek dan Abbott meliputi sosialisasi pentingnya Unit Kesehatan Sekolah (UKS); Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), termasuk nutrisi, stimulasi psikososial anak sebagai mitigasi stunting, perilaku hidup bersih dan sehat, peningkatan gizi, dan peningkatan kesehatan. Sasaran kegiatan adalah para orangtua, tenaga pendidik PAUD, dan Bunda PAUD.

Untuk mendukung upaya mitigasi, pihak swasta ini telah mendistribusikan perangkat pengukur tinggi badan berstandar WHO kepada lebih dari 200.000 orangtua sejak 2019 dan terbukti meningkatkan kesadaran terkait status tumbuh-kembang anak.

Baca juga: Penelitian SEANUTS II catat anak stunting dan anemia masih tinggi

Tahun ini, dalam kerangka kerja sama dengan Kemendikbudristek, jenama dari perusahaan swasta ini akan mendistribusikan alat pengukur tinggi dan berat badan (stadiometer) untuk satuan PAUD serta 180.000 growth chart yang sesuai standar WHO dengan jangkauan area yang lebih luas.

Stunting, yang mengakibatkan seorang anak bertubuh pendek jika dibandingkan teman-teman sebayanya, bisa dicegah dan dideteksi melalui pengukuran tinggi badan secara berkala, untuk selanjutnya dilakukan intervensi melalui pemberian nutrisi dan stimulasi yang tepat.

“Tumbuh-kembang anak bisa diukur. Karena itu, peningkatkan kualitas dan kompetensi tenaga pendidik PAUD sangat diperlukan mengingat mereka perlu menjadi sensitif gizi dan mampu mendorong stimulasi. Guru-guru PAUD perlu mengukur tinggi badan murid secara rutin, memiliki wawasan yang baik tentang pemenuhan nutrisi, pola asuh, dan sanitasi,” kata Hasbi.

Program ini menjangkau 250 PAUD di seluruh provinsi di Jawa, Bali, kota-kota di Sumatera Utara, NTB, NTT, Sulawesi Utara, dan Maluku.


Baca juga: BKKBN: Banyak berhubungan intim tak wujudkan kehamilan berkualitas

Baca juga: BKKBN: Kondisi mental indikator keberhasilan tumbuh kembang anak

Baca juga: Ahli tekankan protein hewani miliki asam amino esensial lebih lengkap

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar