Melalui kolaborasi tersebut, kita harap semua negara penghasil nikel bisa mendapat keuntungan melalui penciptaan nilai tambah yang merata
Jakarta (ANTARA) - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengaku pihaknya sudah menyiapkan formulasi untuk membentuk organisasi khusus bagi negara-negara penghasil nikel, seperti OPEC yang merupakan organisasi negara-negara eksportir minyak. 

Bahlil sendiri telah melakukan pertemuan dengan Kanada dan Australia terkait inisiatif tersebut. Ia menilai kolaborasi dengan sesama negara penghasil nikel maupun mineral lainnya sangat diperlukan untuk mendukung industri kendaraan listrik di masa depan.

“Dari kita sendiri formulasinya sudah ada, tapi 'kan harus kita tawarkan formulasi yang sama untuk kemudian mereka ada koreksi atau tidak, dan sekarang tawaran konsep itu sudah kita berikan ke mereka, kita menunggu feedback, tapi kesepahaman umumnya kita sudah pada satu titik pemikiran yang sama,” katanya dalam keterangan pers melalui video yang diterima di Jakarta, Kamis.

Bahlil menyebut inisiatif untuk mendirikan organisasi tersebut merupakan mimpi besar Indonesia agar negara-negara penghasil bahan baku mineral bisa berkolaborasi dan menjadi pemegang kendali perdagangan mineral dunia.

Hal itu juga dilakukan lantaran negara-negara Eropa, yang merupakan pusat pabrikan otomotif, mengharuskan agar pembangunan pabrik baterai mobil harus dibangun dekat dengan pabrik mobil listrik.

“Nah kalau ini terus terjadi maka negara-negara penghasil bahan baku ini tidak akan mendapatkan nilai tambah. Maka kemudian ide ini dilakukan oleh Indonesia dan saya komunikasikan, baik dengan Kanada, Australia dan kami sudah hampir mencapai satu kesepahaman. Butuh sedikit lagi untuk memberikan penjelasan,” katanya.

Bahlil menambahkan, inisiatif tersebut akan jadi instrumen kolaborasi antara para negara penghasil mineral agar bisa mendapatkan keuntungan sambil tetap menjalankan aturan perdagangan internasional.

“Saya pikir inilah instrumen untuk kita berkolaborasi yang baik untuk membangun komitmen bersama, tapi semua dalam rangka kolaborasi untuk saling menguntungkan dan memperhatikan aturan permainan perdagangan internasional,” imbuhnya.

Sebelumnya, Bahlil menilai dengan adanya wadah organisasi bagi sesama negara yang kaya akan hasil pertambangan khususnya nikel, maka negara penghasil nikel dapat mengoordinasikan dan menyatukan kebijakan komoditas nikel.

Ia juga menyebut selama ini negara-negara industri produsen kendaraan listrik melakukan proteksi.

Akibatnya, negara penghasil bahan baku baterai tidak memperoleh pemanfaatan nilai tambah yang optimal dari industri kendaraan listrik.

“Melalui kolaborasi tersebut, kita harap semua negara penghasil nikel bisa mendapat keuntungan melalui penciptaan nilai tambah yang merata," katanya.

OPEC atau The Organization of the Petroleum Exporting Countries (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi) adalah organisasi yang bertujuan sebagai tempat negosiasi terhadap masalah-masalah mengenai produksi, harga dan hak konsesi minyak bumi antara negara pengekspor minyak bumi dengan perusahaan-perusahaan minyak bumi.

Seluruh anggota OPEC menghasilkan sekitar 40 persen dari semua minyak mentah dunia. Selain menentukan pasokan minyak mentah di seluruh dunia, organisasi tersebut juga mengontrol harganya.

Baca juga: Bahlil usulkan inisiatif bentuk "OPEC" bagi negara penghasil nikel
Baca juga: Indonesia kantongi 8 miliar dolar komitmen investasi selama G20
Baca juga: Bahlil ajak pengusaha Australia dukung pengembangan baterai listrik

 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2022