Tanjungpinang (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan beberapa hal yang menjadi hasil penyelidikan pasca-bencana longsor di Pulau Serasan, Kabupaten Natuna, kepada pemerintah daerah (pemda) setempat.

"Hasil penyelidikan tersebut di antaranya berkaitan dengan morfologi relatif datar dapat digunakan tempat relokasi yang memerlukan pematangan perencanaan dan penyelidikan," kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Anjar Pranggawan dalam rapat koordinasi secara daring bersama Pemkab Natuna, Kamis.

Kemudian, katanya, diperlukan peningkatan daya dukung tanah yaitu dapat dilakukan dengan cara pemadatan atau pergantian material tanah dan pondasi. Sementara untuk pemanfaatan air tanah, sebaiknya dicarikan sebaran akuifer selain endapan pasir pantai.

Selain itu pihaknya juga memberikan sejumlah rekomendasi, baik secara struktural dan non struktural, antara lain perbaikan pola tata ruang, vegetasi, drainase, dan penggunaan lahan yang ramah lingkungan.

Selanjutnya hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana secara struktural melakukan edukasi peningkatan kapasitas masyarakat di Pulau Serasan dengan pola 3M, yakni Memantau, Menutup, dan Melaporkan retakan.

"Sosialisasi mitigasi bencana harus terus dilaksanakan secara berkala,” jelas Anjar.

Baca juga: Pemulihan pascabencana, Kepri kirim tim asesmen dampak longsor Natuna

Lanjutnya ia menyampaikan bahwa bencana gerakan tanah terjadi di Pulau Serasan merupakan tipe longsor yang berkembang menjadi aliran rombakan. Gerakan tanah susulan berpotensi terjadi kembali jika terjadi hujan dengan intensitas yang cukup lama dan tinggi.

Menurutnya, dimensi longsor utama di Dusun Genting, Desa Pangkalan di Pulau Serasan mempunyai panjang 752 meter, lebar mahkota 44 meter, tinggi 164 meter, dengan luas area 7,388 hektare.

"Selain longsor utama, ada beberapa daerah yang berpotensi terjadi pergerakan tanah, diantaranya Desa Air Raya, Arung Ayam, Desa Air Ringau, dan beberapa desa lain yang ditetapkan sebagai zona merah,” jelasnya.

Sementara Sekretaris Daerah Natuna Boy Wijanarko rapat bersama Badan Geologi sebagai tindak lanjut membahas hasil dari penyidikan geologi di Pulau serasan. Hasil penyelidikan itu, kata dia, akan menjadi referensi dalam perencanaan mitigasi bencana di Pulau Serasan yang akan merujuk pada penetapan wilayah zona merah.

"Juga akan menjadi bahan sosialisasi kepada masyarakat terkait relokasi zona merah” kata Boy Wijanarko.

Ia mengutarakan dari penyelidikan ini akan menjadi dasar bagi pemda dalam melakukan relokasi rumah dan penetapan daerah relokasi 147 rumah, satu sekolah SD, dan satu mushola, termasuk akan terus dilakukan pendataan rumah di wilayah rawan bencana sesuai dengan rekomendasi Badan Geologi.

Bencana longsor di Pulau Serasan, Natuna, tanggal 6 Maret 2023 telah mengakibatkan 50 korban jiwa, ribuan warga mengungsi, dan puluhan rumah rusak parah tertimbun tanah.

Baca juga: BNPB sosialisasi mitigasi bencana bagi warga Serasan

 

Pewarta: Ogen
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2023