Ewindo perkenalkan budi daya bawang hemat biaya

Ewindo perkenalkan budi daya bawang hemat biaya

Bawang merah. (FOTO ANTARA/Dedhez Anggara)

Lazimnya biaya budi daya bawang merah sebesar Rp45 juta per hektare. Maka, melalui cara baru ini hanya Rp10 juta per hektare,"
Jakarta (ANTARA News) - Perseroan Terbatas East West Seed Indonesia (Ewindo) produsen benih sayuran hibrida tropis Cap Panah Merah memperkenalkan cara baru budi daya bawang merah lebih hemat biaya.

"Lazimnya biaya budi daya bawang merah sebesar Rp45 juta per hektare. Maka, melalui cara baru ini hanya Rp10 juta per hektare," kata Asep Harpenas, Direktur Penelitian dan Pengembangan Ewindo saat dihubungi, Senin.

Asep mengatakan bahwa perusahaan telah memperkenalkan benih bawang merah varietas "tuktuk" kepada petani di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Melalui cara baru ini biaya produksi, khususnya untuk pengadaan bibit, bisa ditekan dari Rp45 juta per hektare hanya menjadi Rp10 juta per hektare, jelas dia.

"Ewindo terpanggil untuk ikut mendorong produktivitas dan menciptakan pertanian efektif bagi petani dengan mengenalkan cara baru budi daya bawang merah melalui `biji`. Kami berharap dengan dikenalnya cara baru ini akan membuat kesejahteraan petani lebih meningkat," ujar Asep.

Lebih lanjut Asep menerangkan bahwa dengan menggunakan benih bawang merah varietas tuktuk petani akan mendapatkan tiga keuntungan.

Pertama, biaya produksi lebih rendah. Jika menggunakan sistem konvensional setiap hektare lahan memerlukan sekitar 1,5 ton umbi dengan biaya di kisaran Rp45 juta, sedangkan jika menggunakan metode "pindah tanam" hanya memerlukan 5 kilogram benih dengan biaya sekitar Rp10 juta.

Kedua, biaya transportasi dengan metode baru lebih murah.

Ketiga, benih bisa lebih lama disimpan dalam storage (maksimal dua tahun) selama tidak terkena sinar matahari. Sementara, dengan sistem konvensional, umbi hanya bisa disimpan antara 2--4 bulan.

Selain itu, cara baru budi daya bawang merah dengan menggunakan biji memiliki keunggulan, yakni lebih sedikit terserang penyakit karena benih tidak membawa bulb borne disease, seperti virus dan jamur.

Pemakaian pupuk pun lebih efisien. Hanya dengan menggunakan dosis pupuk setengah dari kebutuhan pupuk dengan metode penanaman konvensional, produksi bawang merah tetap tinggi.

Bahkan, hasil panen tuktuk bisa mencapai 20--25 ton per hektare, lebih tinggi dibanding teknik budi daya konvensional yang hanya bisa menghasilkan 8--12 ton per hektare.

Bima sendiri memiliki potensi budi daya bawang merah yang relatif cukup tinggi, yakni lahan atau area tanam mencapai sekitar 12.000 hektare, namun yang ditanami baru sekitar 7.000 hektare.

Kondisi tanah dan iklim di Bima juga sangat mendukung pertumbuhan bawang merah secara optimal. Produksi bawang merah dari Bima selama ini dikirimkan, antara lain, ke Bali, Jawa, dan Sulawesi.

Bukan hanya mengenalkan budi daya bawang merah melalui biji, Ewindo juga memberikan pelatihan persemaian bawang kepada petani.

Pelatihan itu diikuti oleh sekitar 30 orang petani yang berasal dari Bima dan sekitarnya. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini petani tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi memahami dan merasakan sendiri keuntungan menggunakan cara baru ini.

"Pengenalan cara baru budi daya bawang merah ini merupakan sumbangsih kami dalam memacu pertumbuhan dan kemajuan bidang agroindustri, khususnya budi daya hortikultura di Indonesia. Kami berharap dengan pengenalan cara budi daya ini mampu mendorong peningkatan kesejahteraan petani bawang merah, khususnya di Bima," kata Asep.

Ewindo berdiri pada tahun 1990, perusahaan ini memiliki misi untuk menyediakan produk dan pelayanan yang penuh inovasi yang akan meningkatkan pendapatan petani serta mendorong perkembangan dan kualitas produk petani sayuran.

Ewindo juga ingin mengembangkan industri benih lokal yang inovatif agar dapat menghasilkan benih sayuran yang berkualitas tinggi.

Sampai dengan 2013, Ewindo telah bermitra dengan sekitar 7.000 petani produksi benih yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur, dan lebih dari 30.000 tenaga kerja serta polinator yang bekerja pada petani produksi.

Selain itu Ewindo juga membina lebih dari 10.000.000 petani komersial yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Ewindo didukung oleh 100 persen karyawan lokal, termasuk peneliti dalam negeri. Hingga saat ini, Ewindo telah menghasilkan sebanyak 170 varietas benih unggul dan telah mendapatkan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, ISO 9001:2008, dan akreditasi dari International Seed Testing Association.

(G001/D007)

Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar