Pesawat Kepresidenan (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di pesawat kepresidenan yang membawanya kembali ke tanah air Jumat, berbagi pandangannya mengenai dinamika politik luar negeri dan peran Indonesia di tataran global.

"Saya tidak mau menggurui hanya ingin berbagi pengetahuan, penglihatan dan pengalaman selama menjalankan tugas diplomasi dan politik luar negeri," kata Presiden Yudhoyono dengan didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, merujuk pada pemaparannya yang bertema "global governance (pengatur global), global power (kekuatan global) and its dynamic in changing world (dinamikanya di dunia yang berubah)".

Di hadapan sejumlah menteri, gubernur dan pemimpin redaksi media nasional, Presiden Yudhoyono yang telah mengemban tugas sebagai diplomat tertinggi Indonesia dalam sejumlah forum internasional selama delapan tahun terakhir menjelaskan pandangannya mengenai politik luar negeri dan hubungan internasional.

Dalam pemaparannya yang berlangsung lebih dari satu jam itu Presiden berharap agar publik dapat makin memahami bagaimana dunia diatur, kekuatan-kekuatan yang mengatur dunia serta interaksi antara para aktor dunia di tata aturan dunia yang terus berubah.

"Tentang global governance, pertanyaannya adalah siapa di sini. Bisa jadi organisasi atau asosiasi kawasan yang kita ketahui bisa menjadi pengatur dunia ini," katanya.

Menurut Presiden yang saat itu telah mengganti jasnya dengan sweater berwarna merah, sekalipun banyak kritik dan ketidakpuasan menyangkut apa yang dilakukan oleh PBB tapi kenyataannya adalah PBB masih diperlukan dan masih memainkan peran penting.

Presiden menggarisbawahi peningkatan desakan internasional pada struktur organisasi Dewan Keamanan PBB.

Selain PBB, Presiden juga menyebut G20 , ASEAN dan Uni Eropa sebagai pengatur global yang sekalipun masih bergulat melawan kritik tetap berkontribusi terhadap tata dunia.

Uni Eropa yang merupakan perwakilan Eropa dan ASEAN yang menjadi suara Asia Tenggara disebut Presiden sebagai contoh organisasi kawasan yang menjadi "global governance".

Kemudian terkait "global powers" atau kekuatan dunia, Presiden menyebutkan sejumlah negara kunci yang memainkan peran penting di tingkat global.

Mereka menurut Presiden antara lain adalah G2 yang terdiri dari Amerika Serikat dan China, Eropa, dan Asia Timur.

"Kedua negara itu (AS dan China --red) dengan tatanan dunia yang berubah tampak sedang mencari tempatnya dalam tatanan baru dunia," katanya. Menurut Presiden, kedua negara itu tengah mencari apa yang bisa dilakukan dan pengaruh apa yang bisa dilakukan untuk menentukan arahnya.

Sedangkan Uni Eropa yang tengah berkutat dengan kesulitan ekonomi di sejumlah negara anggotanya, menurut Presiden, tetap berupaya mempertahankan perannya untuk mengawasi penerapan demokrasi, tolerasi dan perlindungan hak asasi manusia di dunia.

Sementara itu Presiden melihat Asia Timur sebagai negara-negara dengan kekuatan untuk mempengaruhi perekonomian dunia.

Pada kesempatan itu Presiden juga berbagi pandangannya tentang peran yang dilakukan oleh negara-negara Amerika Latin dan Afrika.

Negara-negara kekuatan dunia tersebut, tambah Presiden, akan memberikan pengaruh besar pada perubahan tata aturan dunia.

Perubahan tata aturan dunia itu dilihat Presiden Yudhoyono dari tiga sudut pandang, yaitu ekonomi, politik dan keamanan, serta agenda pembangunan.

Dari sudut pandang ekonomi Presiden menyoroti negara-negara yang memiliki kebutuhan energi sangat besar dan bersikap agresif, negara-negara besar yang mementingkan urusan dalam negerinya (self-oriented powerful), negara-negara yang sibuk mencari sumber daya ekonomi dan negara-negara berkembang serta miskin yang menyuarakan keadilan sosial dan pengentasan kemiskinan.

Sementara itu dari sudut pandang politik dan keamanan, Presiden menyoroti mengenai perubahan geo politik dunia pasca berakhirnya perang dingin dan kemunculan krisis ekonomi.

Presiden menyebut rivalitas antar negara-negara besar, "Arab Spring" (kebangkitan Arab) yang belum selesai, ketegangan di Asia Timur dan ancaman penyalahgunaan senjata nuklir.

Sementara itu dari sudut pandang agenda pembangunan, Presiden menyoroti keperluan negara-negara di dunia menyepakati agenda pembangunan pasca-2015 sebagai pengganti Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs).

Ia juga menggarisbawahi peran Indonesia sebagai ketua bersama panel perumus agenda pembangunan pasca-2015.

Presiden Yudhoyono beserta rombongan baru saja menyelesaikan kunjungan kerja ke Jerman dan Hungaria, 3-8 Maret 2013. Kepala Negara berbagi pandangan dan pengalamannya dalam perjalanan dari Budapest menuju Dubai, lokasi pesawat kepresidenan akan mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Turut mendampingi Presiden Yudhoyono dalam kunjungannya ke Jerman dan Hungaria antara lain adalah Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, dan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.

(G003/D009)

Pewarta: GNC Aryani
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2013