Lima (ANTARA) - Bank sentral Peru (BCRP) pada Kamis (14/9/2023) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 7,5 persen setelah mempertahankan suku bunga stabil selama delapan bulan berturut-turut, karena otoritas moneter di negara Andes tersebut melihat adanya pelonggaran inflasi.

Bank sentral pertama kali mempertahankan suku bunga stabil pada Februari menyusul serangkaian kenaikan agresif yang dimulai pada Agustus 2021.

Meskipun terjadi pelonggaran inflasi, bank tersebut mengatakan pada Kamis (14/9/2023) bahwa keputusannya tidak selalu berarti siklus penurunan suku bunga berturut-turut.

Tingkat inflasi tahunan Peru pada Agustus melambat menjadi 5,58 persen, terendah sejak September 2021.

Dalam pengumuman Kamis (14/9/2023), bank sentral mengatakan harga konsumen telah menurun sejak awal tahun 2023, “tetapi terus berada di atas batas atas kisaran target inflasi.”

Bank Dunia memproyeksikan tren penurunan inflasi tahunan akan terus berlanjut, mencapai kisaran target pada awal tahun depan, namun mencatat "risiko yang terkait dengan faktor iklim."

Dengan pemotongan suku bunga pada Kamis (14/9/2023), Peru bergabung dengan negara-negara Amerika Latin lainnya yang telah memulai siklus pemotongan suku bunga, seperti Chile, Brasil dan Uruguay.

Peru, produsen tembaga terbesar kedua di dunia, merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di kawasan ini, namun pertumbuhan ekonominya lemah setelah terjadinya kerusuhan politik dan sosial pada akhir tahun lalu dan awal tahun ini.


Baca juga: Argentina pertahankan suku bunga stabil meski terjadi lonjakan inflasi
Baca juga: Dolar AS menguat setelah kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2023