Kuncinya kalau sudah kirim sampel SHK lalu gak dikabari, berarti Alhamdulillah negatif
Jakarta (ANTARA) - Praktisi kesehatan Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin Bandung, dr Faisal, mengimbau masyarakat agar tidak perlu cemas jika tidak kunjung mendapatkan hasil Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) karena merupakan pertanda baik.
 
"Kuncinya kalau sudah kirim sampel SHK lalu gak dikabari, berarti Alhamdulillah negatif. Sebetulnya bukan gak ada kabar, tapi alur prioritas yang dikabari segera hanya bayi yang positif hipotiroid kongenintal," katanya dalam acara gelar wicara tentang hipotiroid kongenital yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.
 
Faisal mengatakan terdapat alur mekanisme khusus dalam menangani SHK dengan memprioritaskan bayi yang positif hipotiroid kongenital, agar penanganannya tidak terlambat.
 
Dia menjelaskan alur tersebut dimulai dengan pengambilan sampel darah di tumit bayi, terhadap seluruh bayi yang baru lahir. Pengambilan sampel darah di tumit bermaksud untuk mengambil sampel darah yang berkualitas, serta menghindari sistem saraf bayi agar tidak terkena jarum suntik yang berpotensi mengakibatkan trauma.

Baca juga: Dokter: Hipotiroid kongenital tidak bergejala saat bayi lahir
 
Kemudian, sambungnya, sampel darah akan diteteskan pada kertas khusus dan hasilnya dikirimkan ke sejumlah laboratorium rujukan nasional yang ada di Indonesia.
 
"Jumlahnya ada cukup banyak dan hasil tesnya bisa dikirim, sehingga skrining ini juga bisa dilakukan di daerah terpencil," ujarnya.
 
Setelah hasil diterima laboratorium, kata dia, laboratorium rujukan akan diberikan waktu selama tujuh hari untuk dapat menguji apakah sampel tersebut positif atau negatif hipotiroid kongenital.
 
Jika ditemukan hasil positif, sambungnya, maka laboratorium rujukan akan menghubungi fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) terkait dalam waktu 24 jam.

Baca juga: Dokter: Semua bayi bisa mengalami hipotiroid kongenital

Fasyankes tersebut juga diberikan waktu selama tiga hari untuk melakukan edukasi, informasi, serta pemeriksaan darah lanjutan untuk mengonfirmasi ulang terkait hasil penelitian sampel SHK yang dilakukan sebelumnya.
 
"Jika hasil pemeriksaan darah ditemukan negatif, maka sang bayi dinyatakan aman dan tidak harus diobati, namun jika hasilnya positif, maka harus dirawat. Dengan langkah cepat ini, kita bisa temukan sedini mungkin dengan target sebelum satu bulan sudah diobati," tuturnya.
 
Adapun jika ditemukan hasil negatif sejak awal melakukan SHK, Faisal mengatakan informasi akan diberikan kepada orang tua dalam kurun waktu satu bulan.
 
Untuk diketahui, SHK merupakan salah satu dari 14 jenis skrining yang biayanya ditanggung oleh pemerintah. SHK pada bayi baru lahir juga merupakan bagian dari Integrasi Layanan Kesehatan Primer yang salah satunya berfokus pada setiap siklus hidup.

Baca juga: 4.000 puskesmas di Indonesia dilengkapi skrining hipotiroid kongenital
 
 

Pewarta: Sean Muhamad
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2023