Kudeta Militer Mesir: Kegagalan Reformasi Timur Tengah

Kudeta Militer Mesir: Kegagalan Reformasi Timur Tengah

Pendukung presiden Mesir yang terguling, Mohamed Moursi, saat berunjuk rasa di Kairo pada 7 Juli 2013. (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)

Jakarta (ANTARA News) - Kita sekali lagi dihentakkan oleh berita pembunuhan massal yang terjadi di Mesir. Beragam jumlah yang disampaikan media massa, tergantung sumbernya.

Tapi yang pasti Kementerian Kesehatan Mesir sendiri melaporkan ada sekitar 200-an yang terbunuh akibat serangan militer kepada para demonstran yang damai itu.

Lazimnya, jumlah yang disampaikan oleh pihak pelaku mewakili minimal dari kemungkinan jumlah yang sesungguhnya. Washington Post melaporkan dalam 'breaking news'nya dengan jumlah yang lebih besar, sekitar 500-an orang. Bahkan website militer Mesir sendiri sempat menuliskan sekitar 2.000-an korban.
 
Berapapun yang meninggal tentu bukan sesuatu yang menjadi permasalahan mendasar tulisan ini. Tapi justru fenomena apa yang sedang terjadi di Mesir saat ini? Kenapa proses revolusi, atau mungkin memakai kata reformasi, terlalu rumit, berkepanjangan dan harus menelan korban yang besar?
 
Pertama, kita harus menyadari bahwa Mesir memiliki strategi geografis yang sangat krusial. Boleh dikatakan, selain Turki, Mesir juga merupakan penyambung antara dunia barat dan timur.

Apalagi, kenyataannya Mesir memiliki perbatasan langsung dengan kedua pihak, Palestina dan Israel, yang merupakan "pusat konflik dunia" saat ini. Oleh karenanya, siapa yang memenangkan pertarungan Mesir, memberikan warna tersendiri bagi masa depan dunia, khususnya dalam konteks konflik Timur Tengah.
 
Kedua, setelah jatuhnya Saddam Husain di Irak dan Moammad Khaddafy di Libya, sesungguhnya tinggal dua negara yang menjadi penentu di Timur Tengah. Yaitu Arab Saudi di kalangan negara-negara Teluk dan Mesir di kalangan negara-negara non Teluk.

Persaingan antara kedua negara ini juga seringkali, tidak saja secara politik dan ekonomi, tapi tidak jarang merembet kepada persaingan pemikiran Islam sekaligus. Saudi seringkali merasa mewakili pemikiran Islam yang sejati karena di sanalah Rasulullah SAW dilahirkan. Sementara Mesir merasa mewakili sumber ilmu-ilmu Islam dengan universitas Al-Azhar yang terkenal.
 
Ketiga, walaupun secara sumber daya alam Mesir tidak sekaya negara-negara Timur Tengah lainnya, bahkan tidak sekalipun dengan Sudan yang kaya minyak, tapi Mesir memiliki modal besar yang tidak dimiliki oleh negara-negara Timur Tengah lainnya. Yaitu sumber manusia yang hebat karena Mesir merupakan negara berpenduduk terbesar di Timur Tengah, dan paling banyak memiliki sarjana setelah Palestina.
 
Keempat, dalam sejarah konflik Timur Tengah, Mesir memiliki keterkaitan dan keterlibatan langsung, dan seringkali menjadi tumpuan bagi pihak-pihak berkepentingan. Bahkan serangan Israel ke Gaza terakhir hanya dapat dihentikan dengan keterlibatan langsung Presiden Moursi atas permintaan Menlu AS, Hillary Clinton, saat itu. Sehingga diyakini bahwa pertarungan yang terjadi di Mesir juga memiliki konsekwensi langsung terhadap konflik Timur Tengah.
 
Kelima, sesungguhnya beberapa negara di Timur Tengah memilih mengambil sikap 'munafik' dalam merespon kejadian-kejadian mutakhir di Mesir. Salah satu negara termaksud adalah Saudi Arabia, yang justru memberikan dukungan kepada militer Mesir pascakudeta Presiden Moursi yang sah.

Setelah mendapat sorotan umat di berbagai belahan dunia, baru kemudian sekolompok ulama Saudi mengeluarkan pernyataan mendukung Presiden Moursi. Tapi yang pasti, jangankan mengeluarkan pernyataan yang melawan kebijakan kerajaan, berdoa di saat khutbah saja dan tidak menyebut nama raja, akan berakibat fatal kepada sheikh tersebut.

Oleh karenanya, ketika sekolompok ulama Saudi mengeluarkan pernyataan mendukung Moursi, dan itu setelah umat memberikan sorotan tajam kepada dukungan pemerintah Saudi kepada militer Mesir, dipandang penuh rekayasa. Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa kemenangan reformasi di Mesir sesungguhnya sebuah momok yang sangat ditakuti oleh pemerintah Saudi Arabia.
 
Pada akhirnya saya melihat bahwa fenomena-fenomena mutakhir di Timur Tengah, termasuk Mesir dan Siria, merupakan alamat terang akan kegagalan reformasi Timur Tengah, sekaligus menguak kegagalan demokrasi.

Kudeta militer yang dilakukan oleh pimpinan militer Mesir, bukan tidak mempertimbangkan reaksi-reaksi internasional di kemudian hari. Hitungan itu ada dan sangat jitu, kalau tidak memang ada kolaborasi dengan pihak-pihak luar yang berkepentingan.
 
Sebagai seorang Muslim yang hidup di Amerika Serikat dan menikmati arti sebuah demokrasi, melihat kejadian-kejadian mutakhir Mesir tentu menyakitkan.

Menyakitkan, karena Amerika yang selama ini mengkampanyekan, dan bahkan lewat aksi militer (tentu sebuah fenomena paradoxical), ternyata gagal melindungi proses demokratisasi di Mesir.

Selain itu, tentu menyakitkan bahwa selama ini Islam diobok-obok dengan berbagai tuduhan, antara lain, tidak sejalan dengan demokrasi, justeru kini antithesis demokrasi itu terpakai untuk mengobok-obok aktifis Muslim.
 
Akankah ini sebuah kesimpulan bahwa proses demokratisasi di Timur Tengah dan dunia telah mengalami kematian di tengah jalan? Semoga saja tidak. Wallahu a’lam!

*) Imam Masjid Pusat Kegiatan Islam ("Islamic Centre") New York, AS

Oleh
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar