SNI ini setiap lima tahun ditinjau dan dikaji, kita lihat apakah masih relevan digunakan, atau perlu diganti dengan yang baru
Jakarta (ANTARA) -
Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Kukuh S Achmad menyebutkan total ada 29.524 produk yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) hingga tahun 2023, dengan 531 SNI baru yang diterbitkan pada tahun 2023.
 
Hal tersebut disampaikan Kukuh pada konferensi pers terkait capaian BSN tahun 2023 dan rencana tahun 2024 di kantor BSN Jakarta Selatan, Rabu.
 
"SNI ini setiap lima tahun ditinjau dan dikaji, kita lihat apakah masih relevan digunakan, atau perlu diganti dengan yang baru. Selama ini, kita telah menghapus sekitar 3.000-an SNI yang dinyatakan sudah tidak valid digunakan," kata Kukuh.
 
Ia menegaskan, prinsip utama SNI yakni berdasarkan hasil konsensus yang telah disepakati oleh seluruh pemangku kepentingan.
 
Kukuh juga memaparkan ada delapan SNI yang ditetapkan di tahun 2023 dan menjadi sorotan atau highlight, pertama yakni SNI terkait penyimpanan penangkapan karbon atau carbon capture storage (CCS).
 
Ada empat SNI ISO yang ditetapkan terkait penangkapan, transportasi, manajemen risiko proyek, dan penyimpanan geologis seputar karbon dioksida yang merespons amanat Presiden terkait komitmen nol emisi saat Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan G20.
 
Kedua; yakni SNI terkait resin polietilena tereftalat (PET) daur ulang, ketiga; SNI terkait pelayanan kesehatan hewan yang memuat rumah sakit hewan, klinik hewan, dan praktik dokter hewan mandiri.
 
Keempat; SNI ISO terkait efisiensi energi dan perhitungan penghematan untuk negara, wilayah, dan kota, kelima; terkait sistem pengisian kendaraan listrik umum series, keenam; SNI ISO terkait keamanan dan resiliensi yang memuat pedoman untuk menjadi tuan rumah dan penyelenggara acara berskala kota atau regional.
 
Ketujuh; SNI ISO terkait sistem manajemen kepatuhan, dan kedelapan yakni SNI terkait Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA).
 
Kukuh juga memaparkan, berdasarkan hasil survei Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNIDO pada 137 negara anggota PBB, Indonesia menempati urutan ke-34, dan di ASEAN menempati peringkat kedua setelah Singapura yang ada pada urutan ke-28.
 
"Survei tersebut dilakukan pada lima elemen yang terdiri atas 36 indikator, yakni dari segi metrologi atau Standar Nasional Satuan Ukuran (SNSU), standardisasi, penilaian kesesuaian, akreditasi, dan kebijakan," katanya.
 
Menurutnya, penetapan SNI ini juga sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi, di mana berdasarkan laporan dari Center for Economics and Business Research di London, Inggris pada Juli 2023, SNI berkontribusi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 6,5 persen.

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: M. Tohamaksun
Copyright © ANTARA 2024