Padang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melanjutkan upaya pengembangan budi daya ikan kerapu yang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk kebutuhan ekspor pada 2024.

"Potensi budi daya ikan kerapu ini cukup besar di Sumbar karena memiliki garis pantai yang cukup panjang. Nilai ekonominya juga tinggi karena menjadi salah satu produk ekspor potensial," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Reti Wafda di Padang, Selasa.

Ia mengatakan pada saat pandemi Covid19, ekspor ikan kerapu dari Sumbar sempat terkendala karena kapal yang menampung ikan untuk ekspor menuju Hong Kong tidak beroperasi di Sumbar.

Akibatnya, banyak pengusaha budidaya ikan kerapu yang merugi karena pasarnya menjadi terbatas untuk memenuhi kebutuhan lokal dengan harga jual yang berada jauh di bawah harga ekspor.

Namun pada 2023, kapal penampung ikan untuk ekspor ke Hong Kong tersebut sudah kembali beroperasi dan menampung hasil budidaya nelayan.

"Ini menjadi angin segar bagi nelayan dan pengusaha budi daya ikan kerapu. Dengan terbukanya kembali peluang ekspor, pendapatan mereka kembali meningkat. Kita juga akan memberikan bantuan untuk menyokong pengembangan budi daya ikan kerapu ini," ujarnya.

Reti mengatakan sejak pertengahan 2023 dan awal 2024 sudah dua kali dilakukan ekspor ikan kerapu hasil budidaya di perairan Sumbar, masing-masing 20 ton.

"Kapal ini memang hanya mau menampung minimal 15 ton dan maksimal 20 ton ikan kerapu untuk sekali ekspor, sesuai dengan kapasitas angkut kapal. Jumlah ini terpenuhi dari hasil budidaya yang ada saat ini," katanya.

Ia berharap mulai 2024 atau setidaknya 2025, akan bisa dilakukan minimal dua kali ekspor ikan kerapu per tahun.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi menyebut untuk budi daya ikan kerapu masih banyak ruang bagi investor menanamkan modal karena saat ini, dari tujuh kabupaten dan kota di Sumbar yang memiliki wilayah laut, baru Pesisir Selatan yang telah mengembangkan budi daya ikan kerapu.

"Budi daya ikan kerapu memiliki potensi besar karena orientasinya adalah ekspor. Kita mengundang investor untuk ikut mengembangkan budi daya ini di Sumbar, katanya.

Saat ini nilai ikan kerapu ekspor cukup tinggi. Untuk ikan kerapu bebek, harganya bisa mencapai Rp420-450 ribu per kilogram sementara untuk kerapu hibrid sekitar Rp100 ribu per kilogram.


Baca juga: Pesisir selatan Sumbar bagus untuk pengembangan ikan kerapu

Baca juga: Pemkab Agam bongkar 2.500-an keramba dari Danau Maninjau

Pewarta: Miko Elfisha
Editor: Nurul Aulia Badar
Copyright © ANTARA 2024