Surabaya (ANTARA News) - Produksi gula nasional pada musim giling tahun ini diprediksi turun antara 10 persen sampai 20 persen dibandingkan dengan produksi nasional tahun 2012 karena hujan turun berkepanjangan.

Direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Aris Toharisman di Surabaya, Selasa, mengungkapkan dengan sisa waktu giling yang tinggal tiga bulan, produksi gula nasional tahun ini maksimal hanya bisa sampai sekitar 2,3 juta ton.

"Kalau musim lalu produksi gula mencapai 2,6 juta ton, tahun ini dipastikan turun. Hujan berkepanjangan yang turun di sebagian besar pabrik gula sejak awal giling pada Juni 2013 menjadi penyebabnya," katanya usai diskusi "Anomali Iklim 2013: Dampaknya terhadap Penurunan Produksi Gula dan Antisipasinya".

Ia menjelaskan, tahun ini curah hujan cukup tinggi sampai pertengahan Agustus 2013 sementara dalam keadaan normal hujan sudah reda saat memasuki awal musim giling tebu pada Mei dan Juni.

"Tebu yang tidak bisa ditebang tepat waktu dan sulit dirawat selama hujan pada tahun ini, dipastikan bisa menurunkan hasil gula pada tahun depan," ucapnya.

Lebih lanjut Aris menjelaskan, produksi gula 2,3 juta ton baru bisa memenuhi 40 persen kebutuhan gula nasional.

"Artinya, program swasembada gula masih menjadi mimpi yang harus diperjuangkan secara serius," tambah Aris, yang juga Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi).


Biaya Tambahan

Kepala Bidang Pengembangan Usaha PT Perkebunan Nusantara XI, Adig Suwandi, mengatakan hujan yang berkepanjangan juga menambah biaya tebang dan angkut tebu serta pemrosesan gula.

"Dalam kondisi hujan, proses tebang dan angkut tebu relatif sulit dan mahal. Sedikitnya diperlukan tambahan ongkos Rp2.000 per kuintal untuk tebang dan angkut tebu ke pabrik gula, sementara harga gula lelang cenderung turun. Kondisi ini sangat menyulitkan petani tebu," katanya.

Adig menambahkan, curah hujan yang tinggi menyebabkan kadar gula dalam tebu atau rendemen turun.

Hingga pekan kedua September, rata-rata rendemen pabrik gula lebih rendah 0,5-1 poin dibanding kurun waktu sama tahun lalu.

"Kalau giling tahun lalu rendemen rata-rata bisa 7,5 persen, kali ini turun menjadi 6,5 persen," tambahnya.

Pewarta: Didik Kusbiantoro
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2013