Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina Agus Widjojo menilai kekuatan diplomasi akan menjadi ujung tombak untuk mengatasi konflik di Laut China Selatan karena tidak ada satu pun negara yang akan diuntungkan dari adanya konflik.

“Saya rasa diplomasi akan menjadi ujung tombak dari upaya penyelesaian (konflik) ini melalui penggunaan elemen national power yaitu elemen of national power diplomacy apalagi kita melihat sebetulnya kekuatan ini ada pada kita,” kata Dubes Agus dalam diskusi daring “Menjaga Kedaulatan dan mencari kawan di Laut China Selatan” yang disaksikan di Jakarta, Selasa.

Dubes Agus menuturkan China berdiri sendiri dalam konflik Laut China Selatan karena negara-negara disekitarnya telah mendapat ancaman dari negara tirai bambu tersebut. Terbaru China menantang Vietnam untuk mempermasalahkan garis batas landas kontinen antara Vietnam dengan China.

Satu-satunya negara yang dinilainya akan menjadi sekutu China adalah Korea Utara, itu pun dengan catatan China mau mendekati negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un itu terlebih dahulu.

“Jadi dari segi daya tempur baik itu secara diplomasi, ekonomi atau militer, China masih di bawah. Apalagi Amerika akan selalu mendukung untuk menjamin adanya kebebasan lintas pelayaran internasional,” ucapnya.

Agus juga menekankan bahwa konflik Laut China Selatan yang merupakan eskalasi dari penyelesaian yang kemudian menjadi ketegangan lalu berubah menjadi konflik, tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Begitu juga dengan solusi melalui diplomasi maupun negosiasi yang tidak bisa dan tidak harus diselesaikan dalam waktu dekat.

“Diplomasi atau negosiasi itu tidak bisa diselesaikan, tidak harus diselesaikan dalam waktu 1 minggu 1 bulan tetapi itu bisa berjalan dalam jangka waktu yang lama. Artinya nikmati saja negosiasi itu sampai kesepakatan itu tercapai,” tuturnya.

Lebih lanjut ia juga mendorong pembangunan kekuatan Badan Keamanan Laut (Bakamla) Indonesia karena Indonesia sebagai negara kepulauan di mana lebih banyak wilayah perairan yang semakin meningkat kehadiran Bakamla.

Namun, tugas dan fungsi Bakamla harus disepakati terlebih dahulu agar tidak tumpang tindih dengan angkatan laut. Hal itu lantaran Bakamla merupakan lembaga non militer yang melaksanakan fungsi penegakan hukum di wilayah perairan teritorial.

Upaya Bakamla Indonesia untuk mempercepat pembangunan kekuatan sebagai sebuah institusi yang mandiri dengan mengadakan kerjasama dengan Bakamla negara-negara ASEAN turut disambut baiknya.

Menilik China yang selalu mengerahkan coast guard atau tim penjaga pantai alih-alih angkatan laut, dinilai Agus sebagai senjata psikologi untuk mengirimkan pesan bahwa wilayah Laut China Selatan merupakan wilayah kedaulatannya.

“Jadi di situ merupakan pedang bermata dua, satu menekankan itu wilayah dia yang kedua juga untuk menyatakan bahwa saya tidak bermaksud untuk perang,” ucap dia.

Baca juga: Pengamat: TNI harus diperkuat antisipasi konflik Laut China Selatan
Baca juga: China, Filipina sepakat diskusi atasi konflik di Laut China Selatan
Baca juga: Pakar: Indonesia layak pimpin ASEAN cegah sumbu konflik kawasan


Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2024