Yogyakarta, (ANTARA News) - Gunung Merapi di perbatasan DIY-Jawa Tengah kembali meletus pada Senin sekitar pukul 04.53 WIB, namun dengan jenis letusan freatik yakni yang terjadi akibat adanya akumulasi gas di permukaan, berbeda dengan jenis letusan terakhir pada awal November 2010 yaitu berjenis eksplosif.

"Jenis letusan kali ini adalah freatik, yaitu letusan yang terjadi akibat adanya akumulasi gas di permukaan dan bukan disebabkan oleh aktivitas magma," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Subandriyo di Yogyakarta, Senin.

Oleh karena itu, lanjut dia, material vulkanik yang disemburkan oleh gunung api aktif tersebut berupa gas dan material kecil seperti abu dan kerikil, bukan lava atau awan panas.

Subandriyo menengarai, gempa tektonik yang terjadi di Ciamis Jawa Barat pada pukul 04.52 WIB dengan kekuatan 4,7 skala richter menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya letusan freatik tersebut.

"Karena sifatnya adalah letusan permukaan dan bukan karena aktivitas magma, maka sebelum letusan tidak ada gejala awal yang terjadi dan tidak ada letusan lanjutan," katanya.

Subandriyo menambahkan, kondisi kubah lava yang terbuka pascaletusan 2010 dan banyaknya gas yang terkandung di dalam gunung membuat gunung kerap mengeluarkan hembusan asap apabila ada pemicu.

Pascaletusan 2010, Gunung Merapi sudah mengalami tiga kali hembusan asap namun letusan freatik pada Senin (18/11) adalah yang terbesar.

Letusan tersebut menyebabkan kolom asap setinggi sekitar dua kilometer (km) dan hujan abu yang terjadi hingga jarak 61,9 kilometer dari puncak ke arah timur atau dirasakan hingga ke Sragen Jawa Tengah.

Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih dinyatakan aktif normal, namun BPPTKG mengimbau agar aktivitas pendakian ke puncak gunung tidak dilakukan dan hanya dilakukan hingga satu kilometer di bawah puncak.

Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Unggul Tri Ratomo
Copyright © ANTARA 2013