Indonesia ekspor mangga dengan teknologi pengawet alami

Indonesia ekspor mangga dengan teknologi pengawet alami

Di Pasar Indramayu, Jawa Barat, mangga gedong gincu dijual seharga Rp20 ribu/kg. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

"Kebutuhan ekspor pasar manggga di Dubai tidak terbatas
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia untuk pertama kali melakukan ekspor mangga ke Dubai, Uni Emirate Arab (UAE) dengan teknologi pengawet alami yang akan memperpanjang masa segar buah tersebut hingga satu bulan.

Peluncuran ekspor perdana mangga yang memanfaatkan teknologi pengawet alami hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Litbangtan) Kementerian Pertanian itu dilakukan Kepala Badan Litbangtan, Haryono di Jakarta, Selasa.

"Penanganan segar dan pengolahan hasil menentukan kualitas dan daya saing produknya. Komoditas mangga merupakan buah tropis eksotis yang dibutuhkan pasar sub tropis," kata Haryono.

Menurut dia, mangga yang diekspor tersebut varietas gedong gincu yang berasal dari lahan petani di Majalengka dan Cirebon Jawa Barat, untuk tahap awal, volume ekspor dengan kapasitas satu kontainer maksimal 15 ton senilai 25.000 dolar AS.

Sentuhan teknologi, tambahnya, dibutuhkan karena konteks pertanian ke depan terkait dengan kesehatan pangan mulai dari sistem produksi, panen, pengemasan hingga distribusi.

"Kami akan terus memonitor dari perjalanan darat dengan kontainer hingga perjalanan kapal laut selama 14 hari guna menjamin buah tetap segar," ujar Haryono.

Sementara itu Kepala Balai Besar Paska Panen Balitbangtan, Rudy Tjahjohutomo mengatakan, kesegaran buah mangga itu dimungkingkan melalui teknologi pascapanen dan pengolahan tanpa menggunakan zat kimia dan pestisida.

Menurut dia, tiga fase dilalui, yakni ketika buah mangga itu dipetik dari pohon dengan menggunakan air bersuhu 50 derajat celcius selama 5 menit, guna mematikan lalat buah yang hinggap di kulit. Fase kedua, menggunakan antimikroba alami yang salah satu bahan bakunya berasal sarang burung walet, cara tersebut mampu mencegah infeksi jamur antraknosa.

Kemudian fase ketiga adalah waxing (diberi lilin) yang berbahan baku sarang tawon, tambahnya, bahan ini mengganti sejenis lilin yang biasa dijumpai buah apel impor.

"Fase terakhir, melalui bantuan controlled airform container yang mencegah proses pematangan pada buah," katanya.

Direktur PT Alamada Sejati Utama Komar Muljawibawa, eksportir mangga gedong, mengatakan, mangga gedong gincu dihargai 4,5 dolar AS di tingkat ritel.

Komar menambahkan, melalui fasilitasi teknologi pengolahan yang memperpanjang masa buah hingga satu bulan itu, pihaknya hanya menambah biaya Rp1.000 per kilogram sementara biaya transportasi yang dihemat mencapai 1 dolar AS karena menggunakan kapal laut dibandingkan dengan pesawat udara yang tarifnya sangat tinggi.

Ia menargetkan ekspor mangga tahun ini sebanyak 60 ton per bulan, karena panjangnya musim hujan, sedangakan tahun depan diharapkan mampu mencapai 60 ton per minggu. "Kebutuhan ekspor pasar manggga di Dubai tidak terbatas. Karena negara ini merupakan etalase ekspor ke negara Afrika dan Asia Selatan," katanya.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar