Sultra percontohan pengelolaan rajungan lestari

Sultra percontohan pengelolaan rajungan lestari

Nelayan membongkar rajungan dari atas perahu untuk di jual ke pengepul di desa Pabeanudik, Indramayu, Jawa barat, Sabtu (2/3). Menurut nelayan, saat ini musim tangkapan rajungan mulai melimpah dan dijual seharga Rp. 30 rb/kg. (FOTO ANTARA/Dedhez Anggara)

Kendari (ANTARA News) - Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) siap dijadikan proyek percontohan pengelolaan rajungan (Portunus pelagicus) yang dikelola secara lestari, kata Bambang Arif Nugraha dari Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI).

"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang turut mendukung tercapainya kegiatan pengambilan data rajungan di Sulawesi Tenggara, khususnya di wilayah Selat Tiworo sebagai pilot project," katanya mewakili Ketua Umum APRI di Kendari, Sultra, Senin.

Pada lokakarya dan sosialisasi "Harvest Control Rule" (pengaturan pemanfaatan) yang digagas APRI, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Indonesia Marine And Climate Support (IMACS) Project-Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika (USAID), ia menegaskan dengan adanya data awal mengenai biologi rajungan sangat penting bagi pengelolaan rajungan di masa depan.

"Diharapkan menjadi starting point dan masukan bagi pemangku kepentingan di Sultra untuk menentukan harvest strategy dan harvest control rules untuk kelestarian perikanan rajungan," katanya menegaskan.

Dalam kegiatan yang juga dihadiri Komite Pengelolaan Data Rajungan Kendari itu, dikemukakan bahwa rajungan adalah salah satu komoditi perikanan yang penting bagi sebagian masyarakat dan nelayan di Indonesia.

Kegiatan pemanfaatan rajungan secara komersial telah berkembang sangat pesat selama 10--15 tahun terakhir.

"Dan berada peringkat ketiga dari dari produk ekspor perikanan di Indonesia, yang nilainya melebihi Rp3,2 triliun pada tahun 2013 dalam skala nasional," katanya.

Sementara itu, dalam skala global, kata Bambang Arif Nugraha, rajungan Indonesia menempati tertinggi volumenya, yakni melebihi 50 persen pada tahun 2013.

Ia menambahkan tidak kurang dari 100 ribu nelayan kecil terlibat dalam penangkapan rajungan di seluruh Indonesia, dan ratusan ribu tenaga pengupas rajungan yang mayoritas wanita dan keluarga nelayan, bekerja di industri pengolahan rajungan.

Menyadari pentingnya kelestarian usaha pengelolaan rajungan bagi sebagian masyarakat Indonesia, industri-industri pengelolaan rajungan yang tergabung dalam APRI menjalin kerja sama dengan berbagai pihak pemangku kepentingan untuk mengupayakan perbaikan pengelolaan perikanan rajungan yang menuju lestari dan berkelanjutan.

Pewarta:
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © ANTARA 2014

Komentar