Kolombia selidiki dugaan pelecehan anak oleh militer AS

Bogota (ANTARA News) - Pemerintah Kolombia pada Selasa berencana untuk menyelidiki dugaan pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh sejumlah staf militer asal Amerika Serikat.

Dugaan itu disampaikan pada Februari lalu oleh sejarawan Renan Vega yang mengatakan bahwa 53 anak di bawah umur telah dilecehkan secara seksual oleh sejumlah tentara Amerika Serikat yang saat kejadian tengah bertugas di Kolombia.

Para tentara itu juga dituduh telah merekam aksi mereka dan menjual hasil rekaman tersebut dalam bentuk video porno.

Tuduhan Vega disampaikan dalam salah satu bagian laporan yang ditulisnya mengenai konflik antara pemerintah Kolombia dengan gerilyawan FARC.

Vega mengatakan bahwa pelecehan seksual itu terjadi di kota Melgar dan Girardot. DI dekat dua kota itu terdapat pangkalan militer besar Kolombia yang bisa diakses oleh tentara dan kontraktor militer Amerika Serikat.

Washington sendiri memang diketahui tengah memimpin program bernilai milyaran dolar AS bernama Plan Colombia. Program ini merupakan inisiatif bantuan diplomatik dan militer dengan tujuan menghentikan pedagangan narkoba dan penumpasan gerilyawan bersenjata.

Salah satu contoh pelecehan seksual yang dituduhkan oleh Vega terjadi pada 2007 di kota Melgar. Saat itu, seorang sersan dan kontraktor militer Amerika Serikat diduga memerkosa seorang gadis lokal yang baru berusia 12 tahun.

Menanggapi tuduhan Vega, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bogota berjanji "akan menyelidiki dengan serius tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu pejabatnya."

Bantahan yang sama juga disampaikan oleh lembaga pemerintah yang menangani persoalan hak asasi manusia, Kantor Ombudsman. Lembaga tersebut malah justru menanyakan sudah berapa kasus yang telah diselidiki dan sudah sejauh mana penyelidikan tersebut berlangsung.

Di sisi lain kepala Institut Kesejahteraan Keluarga Kolombia (ICBF), Christina Plazas, mendesak pemerintah untuk segera mencari anak-anak dan remaja yang menjadi korban pelecehan seksual.
(G005)

Editor: Desy Saputra
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Presiden segera tandatangani surat persetujuan amnesti

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar