counter

Presiden tegaskan tol laut kurangi biaya transportasi

Presiden tegaskan tol laut kurangi biaya transportasi

Presiden Joko Widodo (Jokowi). (ANTARA/subekti)

Kita ingin menurunkan biaya trasnportasi, bila dibandingkan dengan negara lain kita jauh lebih mahal tiga kali lipat. Itulah yang ingin kita kerjakan membagun tol laut dari timur ke barat, barat ke timur,"
Makassar (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo menyatakan pembagunan Tol Laut merupakan salah satu solusi untuk menekan biaya trasportasi yang menjadi permasalahan utama di Indonesia.

"Kita ingin menurunkan biaya trasnportasi, bila dibandingkan dengan negara lain kita jauh lebih mahal tiga kali lipat. Itulah yang ingin kita kerjakan membagun tol laut dari timur ke barat, barat ke timur," ujar Presiden Jokowi di Pelabuhan Rakyat Paotere Makassar, Jumat.

Menurut dia, bila tol laut berjalan nantinya maka akan ada konektivitas antara pulau-pulau sehingga dianggap akan menurunkan biaya trasportasi serta biaya logisltik akan turun bahkan produk-produk yang tadinya mahal akan jauh lebih murah.

"Selama ini biaya trasporasi laut mahal, nah ini yang harus diselesaikan, kalau jasa trasporatasinya murah maka produk juga akan murah, dengan begitu kompetisi dengan negara lain akan lebih bersaing karena harga lebih murah," jelasnya.

Mantan Wali Kota Solo ini mengatakan komiten itu harus ada, makanya dengan menggunakan kapal besar maka daya angkut tentu besar sehinga akan mempermudah jasa transportasi.

"Semuanya harus sama dari tengah, timur dan barat kapalnya juga harus sama besar, yang tidak bisa dikerjakan, itu saya ingin kerjakan," paparnya kepada wartawan.

Sebelum ke Pelabuhan Rakyat Paotere, Presiden juga meresmikan proyek pembangunan Makassar New Port wilayah Pelindo IV Makassar di jalan Soekarno-Hatta.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan pembangunan Makassar New Port merupakan upaya pemerintah dalam menciptakan jalur tol laut untuk wilayah timur mengingat Makassar adalah daerah penghubung timur ke bagian barat Indonesia.

"Kita kan mempunyai lebih dari tujuh belas ribu pulau di Indonesia. Maka udari itu harus di maksimalkan konektivitas jalur laut ini karena sangat penting," paparnya.

Selain itu katamya, dengan tol laut tersebut kemudahan distribusi di berbagai daerah akan membuat Indonesia dapat bersaing pada Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sehingga Indonesia tidak akan tertekan malah akan bersaing dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

Pengembangan pelabuhan bongkar muat, lanjutnya, mulai dibangun dari ujung barat hingga ke daerah Timur Indonesia. Untuk Makassar New Port pemerintah mengharapkan Pelindo IV diharapkan mampu meningkatkan bongkar muat barang dari 560.000 unit kointainer atau Teus per tahun meningkat menjadi 4,2 juta Teus per tahun.

Pada pelabuhan Kuala Tanjung pemerintah menyiapkan lahan seluas 2.200 hektare, sementara di pelabuhan Tanjung Priok akan ditingkatkan dari 5,5 Teus naik mencapai 15 Teus per tahun. Sedangkan di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jokowi menargetkan peningkatan dari 1,5 Teus menjadi 4,2 Teus per tahun.

Dirinya menyakini pembangunan Makassar New Port ini sebagai langkah awal dimulainya oprasional tol laut sehingga pada tiga hinggga empat tahun ke depan harga barang di Indonesia akan murah karena jasa trasportasinya murah.

Direktur Pelindo IV Mulyono pada kesempatan itu menambahkan pembangunan Makassar New Port pada mega proyek tol laut akan sangat bermanfaat. Melihat Makassar berada pada posisi ditengah Indonesia dan bisa menghubungkan jalaur laut dari Makassar- Medan-Jakarta dan Sorong.

Apabila Makassar New Port seluas 171 hektare selesai, perkirakan dapat menampung hingga 2.050 kapal. Proyek tersebut mendapat anggaran APBN Rp2,8 triliun serta penambahan Penyetaraan Modal Negara (PMN) Rp2 triliiun bahkan disuntik tambahan dana perbankan sebesar Rp3 triliun dengan target penyelesaian hingga 2018.

"Saya yakin bila ini berjalan sesuai harapan maka perekonomian akan meningkat sesuai dengan program pemerintah, bila jalur distribusi baik dan murah tentu harga barang akan disesuaikan," tambahnya.

Pewarta: Darwin Fatir
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar