Film klasik Indonesia bisa bertahan 200 tahun?

Film klasik Indonesia bisa bertahan 200 tahun?

ilustrasi Logo baru Festival Film Indonesia (www.pialacitra.com)

Jakarta (ANTARA News) - Ketimbang restorasi, preservasi bisa menjadi jawaban untuk menyelamatkan film-film klasik Indonesia bahkan hingga 200 tahun lamanya, menurut praktisi restorasi film Lisabona Rahman.

"Preservasi sama seperti perawatan rutin tubuh kita. Sementara restorasi ibarat operasi, bisa menyembuhkan tetapi sangat rumit dan mahal. Kalau kita serius bisa kok mempertahankan film sampai 200 tahun," ujar dia di Jakarta, Rabu.

Lisa mengatakan negatif film zaman dulu (1920-an sampai 1960-an) di antaranya berbahan selulosa asetat. Penyimpanan yang mempertimbangkan suhu dan kelembaban menjadi kunci menjaga mutu film tetap terjaga.

"Kalo film (asetat) disimpan di suhu 16 derajat Celcius dengan kelembaban 80 persen, bisa bertahan hanya 5 tahun saja," kata dia. "Tetapi kalau suhu penyimpanan 12-4 derajat dengan kelembaban 80 persen umurnya bisa bertambah tiga kali lipat. Preservasi harus bernegosiasi dengan suhu dan kelembaban," sambung Lisa.

Hanya saja, Indonesia belum mampu menyimpan film-film klasiknya secara baik. Padahal, film klasik merupakan medium sejarah.

"Sayangnya kualitas preservasi di Indonesia sangat buruk. Saya yakin preseverasi masih bisa kita kembangkan ketimbang restorasi," tutur dia.

"Sebagai medium sejarah, harus juga dibuatkan copy-nya supaya masy masih bisa menonton film dalam bentuk copy. Aslinya disimpan," imbuh Lisa.

Dia menambahkan, film merupakan produk kebudayaan yang memiliki daya jangkau yang luar biasa. Lisa percaya, gambar bergerak yang disertai suara sebagai komponen utama dari film perlu mendapat perhatian yang tidak kalah dengan buku maupun lukisan dalam pelestariannya.

"Di Amerika Serikat dan Eropa pun, film-film klasik tetap disimpan dengan baik dan dilestarikan. Film-film tersebut secara rutin diputar kembali untuk ditonton generasi muda di sana," tambah Lisa.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar