India dilaporkan bangun kekuatan pasukan di perbatasan

India dilaporkan bangun kekuatan pasukan di perbatasan

Profil personel paramiliter India. Foto menunjukkan saat mereka mengikuti gladi bersih jelang perayaan Hari Kemerdekaan di Agartala, ibukota negara bagian timur laut India, Tripura, Senin (13/8). India merayakan Hari Kemerdekaan pada 15 Agustus. Militer India termasuk salah satu terkuat di dunia dan mereka menguasai teknologi nuklir. (REUTERS/Jayanta Dey)

... dan India masih berada di sana...
Beijing (ANTARA News) - Kementerian Luar Negeri China, Kamis, mengatakan, India telah membangun kekuatan pasukan dan memperbaiki jalan-jalan di sepanjang sisi perbatasannya, di tengah keadaan yang semakin menegangkan di wilayah perbatasan kedua negara, di sebelah Kerajaan Bhutan.

Perselisihan di kawasan dataran tinggi, di dekat negara bagian Sikkim, yang berbatasan dengan China, telah meningkatkan ketegangan kedua negara bertetangga itu.

China dan India memiliki perbatasan sepanjang 3.500 kilometer, di mana sebagian besarnya masih mengundang perdebatan. China dan India memiliki perbatasan sepanjang 3.500 kilometer, di mana sebagian besar wilayah itu masih mengundang perdebatan.

"Sudah lebih dari sebulan sejak kejadian itu, dan India masih berada di sana. Mereka tidak hanya tinggal di wilayah China secara tak berizin, namun mereka juga memperbaiki jalan, menimbun persediaan, mengumpulkan sejumlah besar anggota bersenjata," kata Kementerian Luar Negeri China, dalam pernyataan.

"Tindakan ini tentu bukan untuk menciptakan perdamaian," tambahnya.

India menolak tuduhan mereka membangun kekuatan militer semacam itu, dan dalam pernyataannya kepada parlemen, Kamis, Menteri Luar Negeri India, Sushma Swaraj, mendesak pembicaraan berdasarkan kesamaan pemahaman tertulis, mengenai persimpangan perbatasan yang dicapai pada 2012 lalu.

"India selalu percaya bahwa kedamaian dan ketenangan di perbatasan India-China merupakan prasyarat penting untuk kelancaran pengembangan hubungan bilateral kedua negara," kata Swaraj.

"Kami akan terus terlibat dengan pihak China melalui saluran diplomatik untuk menemukan solusi yang dapat diterima secara bersama," ujarnya.

Awal Juni, menurut penafsiran China, penjaga perbatasan India menyeberang ke wilayah Donglang, China dan melakukan pekerjaan pada jalan di dataran tinggi itu.

Pasukan kedua belah pihak kemudian saling berhadapan satu sama lain di dekat lembah yang dikuasai China. Daerah itu memisahkan India dari sekutu dekatnya, Bhutan, dan memberi akses China ke daerah Chicken Neck, sebidang tanah tipis yang menghubungkan India dengan wilayah timur lautnya yang terpencil.

Kementerian luar negeri China mengatakan bahwa India tidak hanya menempatkan pasukannya, namun juga telah meminta tuntutan yang tidak masuk akal dan tidak tulus mengenai sebuah penyelesaian masalah.

"Jika India benar-benar menghargai perdamaian, seharusnya mereka segera menarik anggota pasukan tak berizinnya yang melintasi perbatasan, kembali ke wilayah sisi India," kata Kementerian Luar Negeri China.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, akan berkunjung ke China pada awal September mendatang, untuk menghadiri pertemuan puncak pemimpin BRICS.

Pejabat India mengatakan, sekitar 300 tentara dari kedua belah pihak, saling berhadapan sekitar 150 meter jaraknya di dataran tinggi itu.

Mereka mengatakan bahwa para diplomat dari kedua belah pihak, secara diam-diam berusaha untuk mencegah agar ketegangan tidak terus meningkat, dan bahwa duta besar India untuk Beijing memimpin usaha menemukan jalan bagi kedua belah pihak untuk mundur tanpa kehilangan muka.

Media pemerintah China telah memperingatkan India akan nasib yang lebih buruk daripada kekalahan yang pernah mereka derita dalam perang perbatasan singkat pada 1962.

Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar