Jenderal Malaysia ingin Lemhanas dikembangkan juga di ASEAN

Jenderal Malaysia ingin Lemhanas dikembangkan juga di ASEAN

Patung Soekarno di halaman kantor Lemhanas, Jakarta. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta (ANTARA News) - Seorang perwira tinggi Malaysia meminta Indonesia mengembangkan sistem pembinaan kepemimpinan yang diajarkan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI yang ditujukan untuk kalangan sipil dan militer ASEAN.

Keinginan itu disampaikan perwira tinggi Angkatan Laut Malaysia Brigjen Saharudin yang sedang menjalani pelatihan sebagai salah satu Peserta Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) ke-56 Lemhanas di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin.

"Apakah peran Lemhanas ini bisa dikembangkan lagi, atau bisa dikopikan ke negara lain, terutama negara ASEAN, karena seperti saya katakan tadi, di negara saya tidak ada Lemhanas, hanya ada INTAN, Institut Takdir Awam Negara, tapi itu hanya awam tidak ada militer," kata Saharudin dalam sesi tanya jawab dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla hari ini.

Saharudin mengaku sering mendapatkan pertanyaan dari para pengajar Lemhanas tentang keberadaan institut serupa di Malaysia.

"Jawabannya tidak ada, karena kita mungkin berbeda struktur politik, jadi militer di Malaysia perannya hanya militer, tapi di sini saya melihat berbeda. Saya kagum dengan cara pembinaan leadership di dalam pemerintahan negara ini," kata dia.

Menanggapi pertanyaan dari Malaysia tersebut, JK menjawab tegas tentang kemungkinan pola pendidikan Lemhanas dapat ditiru negara lain, namun menekankan bahwa setiap negara mempunyai sistem pertahanan dan ketahanan yang berbeda dari negara lainnya.

JK menjelaskan, di Indonesia, Lemhanas menjadi wadah untuk membangun sinergi sipil dan militer yang sebelum reformasi, tentara memiliki status dwifungsi sehingga mudah menjalankan fungsi sipil dan militer di pemerintahan.

"Sekarang sudah ada aturan-aturan sehingga seperti itu. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pendidikan yang mencakup leadership yang juga swasta atau sipil butuh juga mengetahui tentang cara leadership yang dijalankan oleh militer," kata dia.

Sementara di Malaysia yang berbentuk kerajaan, Wapres mengatakan militer tidak memiliki sejarah dwifungsi seperti di Indonesia sehingga seorang profesional militer tidak dapat berhenti dari jabatannya dan seketika menduduki fungsi sipil, seperti bupati atau wali kota di Indonesia.

"Kalau Indonesia, mudah itu.. ha ha ha, sehingga dibutuhkan persiapan-persiapan seperti itu, oleh karena itulah peran Lemhanas dipertahankan sebagai kombinasi leadership sipil dan militer," kata dia.

Wapres menyampaikan kuliah umum bertema "stabilitas ekonomi untuk kemajuan bangsa" bagi peserta PPRA Ke-56 dan peserta Pendidikan Sementara Angkatan (PPSA) Ke-21 Lemhanas di Istana Wakil Presiden.

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar