Dua orangutan pemulangan Thailand dilepasliarkan

Dua orangutan pemulangan Thailand dilepasliarkan

Dokumen foto Orangutan (Pongo pygmaeus) keluar dari kandangnya saat pelepasliaran di Pulau Badak Kecil, Kawasan Pulau Salat, Desa Pilang, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (3/11/2016). (ANTARA /Yudhi Mahatma)

Kami semua sangat berharap seluruh orangutan yang telah kita lepasliarkan bersama segera membentuk populasi liar baru ..."
Balikpapan (ANTARA News) - Dua orangutan Kalimantan Tengah (Pongo pygmaeus wurmbii) hasil pemulangan dari Thailand tahun 2006 akhirnya bisa dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

"Butuh waktu 11 tahun dalam masa rehabilitasi bagi orangutan Nanga dan Sukamara untuk bisa kembali dilepasliarkan di alam bebas," ungkap Direktur Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Dr Jamartin Sihite, Jumat.

Nanga dan Sukamara adalah nama yang diberikan para pengasuh di BOSF Nyaru Menteng untuk dua orangutan hasil pemulangan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok, Thailand.

Keduanya bagian dari 12 orangutan yang dilepasliarkan  pada 10--11 November 2017. Kelompok itu terdiri atas empat jantan dan delapan betina.

Dalam 11 tahun ini, menurut dia, Nanga yang berkelamin betina 16 tahun, dan Sukamara (betina 20 tahun) menjalani hidup di Nyaru Menteng, di pusat rehabilitasi yang dikelola BOSF di dekat Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Saat berumur enam tahun, Nanga dan Sukamara (saat 8 tahun) dipulangkan dari Thailand setelah menjadi bagian dari sebuah model taman hiburan di Negeri Gajah Putih itu.

Lantaran sejak kecil hidup dalam lingkungan manusia dan terbiasa diberi makan, maka Nanga dan Sukamura belum bisa mandiri sehingga perlu dilatih lepas liar selama bertahun-tahun.

"Orangutan seperti manusia, perlu dididik untuk bisa mandiri," kata Sihite.

Di alam, menurut dia, yang mendidik adalah induk dan kawanan, serta lingkungan orangutan sendiri. Oleh karena itu, Nanga dan Sukamara perlu dilatih mandiri karena mereka menemui bertahan hidup bila dilepas begitu saja ke alam bebas.

"Bahkan, di Sekolah Orangutan untuk anak orangutan yatim piatu, kami mulai dengan pelajaran memanjat pohon, baru mengenal jenis makanan, mengenal bahaya, mencari makan, dan membuat sarang," ujar Sihite.

Selama 11 tahun itulah Nanga dan Sukamara belajar menguasai seluruh keterampilan bertahan hidup di alam bebas.

Bersama 10 orangutan lainnya, Nanga dan Sukamura dibawa dalam dua kelompok pemberangkatan terpisah melalui perjalanan darat dan sungai selama kurang lebih 10 hingga 12 jam dari Nyaru Menteng. Mereka dilepaskan terpisah-pisah di titik-titik yang telah ditentukan di Taman Nasional.

"Tambahan 12 individu ini menjadikan populasi orangutan di Taman Nasional menjadi 71 individu," katanya menambahkan.

Pelepasliaran ini juga sudah yang ke-19 oleh BOSF sejak tahun 2012.

"Kami semua sangat berharap seluruh orangutan yang telah kita lepasliarkan bersama segera membentuk populasi liar baru di Taman Nasional ini dan terus berkembang biak," kata Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya Heru Raharjo MP.

Nanga dan Sukamara juga bagian dari 48 orangutan yang diserahkan pemerintah Thailand ke Indonesia tahun 2006. Keduanya menjadi yang kedua dan ketiga dari orangutan pemulangan (repatriasi) dari Thailand yang dilepasliarkan.

Sebelumnya, pada Juli 2004 Pemerintah Thailand melakukan pemeriksaan orangutan di Theme Park di Bangkok dan menyita lebih dari 100 orangutan. Orangutan sitaan itu kemudian menjalani tes asal pembentuk tubuh (DNA), di mana hasil tes menunjukkan bahwa 57 dari 100 primata langka itu bukanlah anak dari orangutan yang terdaftar pada taman hiburannya.

Pemerintah Thailand memelihara ke-57 orangutan tersebut di Khao Pratubchang Wildlife Breeding Centre. Sebagian kemudian mati karena berbagai hal.

Berdasarkan trakta spesies terancam punah (CITES) Article VIII (4), Departemen Taman Nasional, Kehidupan Alam Liar dan Konservasi dari Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Thailand kemudian memulangkan orangutan ke habitat aslinya di Indonesia.

Orangutan-orangutan kemudian menjalani tes kesehatan untuk memastikan mereka sehat atau perlu mendapat perawatan. Orangutan repatriasi dicek apakah mengidap penyakit tubercolusis (TBC), hepatitis B dan parasit tertentu.

Tes kesehatan itu dilakukan tim bersama Indonesia dan Thailand. Dari tes DNA juga diketahui asal-usul yang lebih tepat bagi orangutan-orangutan tersebut, sehingga antara lain diketahui Nanga dan Sukamara berasal dari Kalimantan Tengah sebab hasil tes menunjukkan mereka Pongo pygmaeus wurmbii, spesies orangutan yang menghuni Kalimantan Tengah.

Pewarta:
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar